Archive for Thought and Imagination

Alumni Merantau

Tulisan ini saya buat untuk Majalah3 edisi Reuni Akbar SMA3 Bandung 2016. Lama sekali saya ga nulis baik serius maupun santai. Blog saya sudah 2 tahun lebih tak saya isi ketika saya terlibat dalam  pembuatan majalah ini. Sebenarnya saya khawatir sudah kehilangan grip wawancara dan menuangkannya dalam tulisan saat terjerumus di dalam proyek ini. Alhamdulillah menurut pemimpin redaksi tulisan saya masih seperti jurnalis pada masanya (masa2 galau maksudnya, bukan jurnalis serius). Saya salin tulisannya di sini karena banyak buah pikiran dan pelajaran yang dapat diambil dari hasil wawancara dengan para narasumber.

 

 

Merantaulah..

Merantaulah..
Orang berilmu dan beradab, tidak diam beristirahat di kampung halaman..
Tinggalkan negerimu dan hiduplah di negeri orang..
Merantaulah..
Kau kan dapati pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan..
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup kan terasa setelah lelah berjuang..
Aku melihat air menjadi kotor karena diam tertahan..
Jika mengalir, ia kan jernih..
Jika diam, ia kan keruh menggenang..  
Singa jika tak tinggalkan sarang, tak kan mendapatkan makanan..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak kan mengenai sasaran..  
Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam..
Tentu manusia kan bosan, dan enggan untuk memandang..  
Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah..
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika terus berada di dalam hutan..
Jika bijih emas memisahkan diri, barulah ia menjadi emas murni yang dihargai..
Jika kayu gaharu keluar dari hutan, ia kan menjadi parfum yang bernilai tinggi..

 

Syair termasyur dari Imam Syafi’I tersebut seakan oase menyejukkan bagi para perantau yang jauh dari tanah air. Tak sedikit di kalangan para perantau yang tetap merindu tanah air meski telah hidup dan membangun kehidupan di perantauan.

 

Antara Motivasi dan Kondisi

Banyak hal yang menjadi sebab dan memotivasi setiap orang untuk merantau keluar negeri. Sebagian karena melanjutkan belajar di jenjang berikutnya, ada juga yang ditugaskan oleh kantor, tak jarang karena mengais rizki di negeri orang, ada pula para istri yang mendampingi suami dan menjaga keluarga.

Sebagian memulainya di usia sangat muda. Seperti Rina Kartina yang selulusnya dari SMA 3 tahun 1995 langsung merantau ke Amerika Serikat. Keberanian yang patut diacungi jempol bagi pelajar berkerudung di usia galau pada masa itu.  Demi menuntut ilmu, Rina berangkat ke Oklahoma State University, Oklahoma, USA sebelum  kemudian transfer kuliah ke Ohio State University, Ohio, USA dan lulus S1 akhir tahun 1998.

Banyak pula yang mulai merantau setelah lulus sarjana strata 1. Apalagi beasiswa melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya banyak tersedia baik dari pemerintah maupun swasta di dalam dan luar negeri. Muhamad Reza, lulusan SMA 3 tahun 1993, segera setelah menjadi sarjana elektro berangkat merantau ke TU Delft, Belanda, dengan satu tujuan; menuntut ilmu dan membuka wawasan untuk kemudian berbagi pengetahuan sesuai tekadnya menjadi dosen.

Ada juga Rany Agustina Susanti yang lulus dari SMA 3 pada tahun 2005 dan melanjutkan pendidikan sarjananya di ITB. Setelah meraih gelar sarjana teknik, Rany melanjutkan studinya di tempat yang sama kemudian mengikuti program pertukaran pelajar (Exchange Student Program) dari Erasmus Mundus di Ghent University, Belgia.

Tekad dan motivasi yang kuat adalah awal keberanian merantau. Lingkungan keluarga terdekat yang kondusif mendukung menjadi semacam penguat tekad bagi para perantau muda belia. Bagi Rina, motivasi dari orang tua yang menginginkan putra putrinya mandiri menjadi modal penting. Bukan hanya motivasi, namun juga gemblengan sejak kecil yang mengondisikan untuk mandiri. Bentuk pendidikannya sederhana saja tapi cukup meninggalkan jejak, misalnya kalau ke rumah nenek ikut dengan truk pengiriman ayam ke Ciamis atau jika ada karyawan perusahaan orang tua mencari suku cadang mesin ke Jakarta diharuskan ikut, bersama karyawan anak SD celingak celinguk berburu suku cadang di Glodok atau Pasar Kenari

Sementara bagi Reza dan Rany, merantau didasari oleh keinginannya untuk melanjutkan sekolah dengan membuka wawasan dan memperluas pengalaman. Apalagi Reza yang sejak awal sudah bertekad menjadi dosen, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tentunya mutlak diperlukan. Pilihan melanjutkan sekolah di luar negeri membuka peluang untuk memperluas jaringan selain memperkaya pengalaman, membuka wawasan, dan menyerap ilmu dan teknologi terbaru.

Kesempatan bekerja di luar negeri semakin banyak dilirik sejak badai krisis moneter 1998. Lebih kurang 10 tahun kemudian, ketika harga minyak dunia meroket, kebutuhan tenaga ahli pengolahan minyak dari Indonesia banyak disukai di seluruh belahan dunia sehingga memicu peningkatan para pekerja perantau. Pendapatan dan insentif yang jauh lebih besar menjadi motivasi utama selain keinginan meningkatkan nilai curriculum vitae dengan melebarkan sayap pengalaman dan memperkaya wawasan terutama di bidang pekerjaan yang sesuai.

Selain para pekerja yang berpindah dari dalam keluar negeri untuk menikmati kehidupan sebagai ekspatriat, para alumni sekolah luar negeri pun tak jarang akhirnya melanjutkan kehidupannya di luar Indonesia karena mendapat pekerjaan di tempat perantauannya. Intan Ambari, alumni SMA 3 lulus tahun 1995, yang niat awal merantau melanjutkan pendidikan sebagai modal menjadi dosen beralih haluan dengan menjadi profesional di Perusahaan Belanda, Shell Nederland Chemie B.V. Kondisi kampus tempat ia mengabdi di saat itu memaksa Intan mengalihkan pilihannya. Demikian pula Reza yang setamatnya S2 melanjutkan S3 dan akhirnya berlabuh menjadi pekerja industri di ABB Swedia.

 

Adaptasi dan Kehidupan Sosial

Menjalani kehidupan yang berubah ritme saja sering membuat kelabakan, apalagi diiringi perubahan adat istiadat setempat, sistem sosial dan kenegaraan, juga kondisi lingkungan, cuaca dan iklim. Tak mengherankan kalau masa-masa awal pindah negara adalah masa terberat perantau. Belum lagi penyakit malarindu tropikangen yang kerap melanda terutama bila ini saat pertama jauh dari keluarga. Masa adaptasi adalah kunci kenyamanan menjalani hari-hari selanjutnya di tanah nun jauh dari negeri.

Biasanya sesama orang Indonesia akan sering berkumpul dengan kawan sekampung, belanja bersama, memasak dan kemudian mencicip makanan sambil ngobrol dalam bahasa Indonesia, berbagi cerita dan informasi. Ketika masa-masa adaptasi sudah dilalui dengan baik, fokus utama pun segera dapat dijalani. Seiring berjalannya waktu, selain fokus dan menjalani tujuan utama, dimulai juga kehidupan sosial lainnya. Bergabung dengan organisasi pelajar ataupun profesional, aktif di kelompok keagamaan, maupun turut sumbang waktu, tenaga dan pikiran di organisasi-organisasi budaya yang banyak berperan memperkenalkan Indonesia dalam arti positif.

Tak jarang yang tadinya tidak pernah bersentuhan dengan budaya tradisional, mendadak jadi penari yang gemulai di panggung, pandai memainkan angklung, bahkan merdu menyanyikan lagu daerah. Kulinari Indonesia yang luar biasa kaya juga sering dimanfaatkan oleh para perantau saat ada festival budaya untuk membuat dan berjualan makanan khas cita rasa tanah air.

Di negara-negara dengan populasi pejuang devisa yang tinggi seperti Timur Tengah, Malaysia, dan Hongkong, peran para istri perantau yang mendampingi suami pun sangat berarti dalam membantu pemberdayaan para TKI dan TKW. KBRI biasanya membuka pintu bagi warga Indonesia yang memiliki waktu untuk membantu memberdayakan mereka baik bagi mereka yang lancar dan aman maupun yang sedang bermasalah dan ditampung di shelter KBRI. Rutin para istri ekspatriat asal Indonesia ini memberikan pendidikan yang bermanfaat terutama yang bisa digunakan sebagai sumber mencari nafkah atau penunjangnya; seperti keterampilan menjahit, memasak, dan reparasi elektronik serta kemampuan bahasa Inggris dasar. Mereka juga aktif memberikan konseling psikologis maupun siraman rohani dengan pendidikan agama.

Selain terlibat dalam orginasasi baik informal maupun formal, para perantau yang sukses selalunya tergerak untuk memberdayakan para perantau asal Indonesia lainnya yang masih berjuang maupun berusaha bertahan di rantau guna menyelesaikan studi maupun mempertahankan hidupnya. Bagi Reza, meski keinginannya menjadi dosen akhirnya harus berubah menjadi pekerja industri, minat dan bakatnya di bidang pendidikan tersalurkan dengan memberikan bimbingan kepada mahasiswa-mahasiswa yang tertatih-tatih menyelesaikan studinya di luar negeri. Tak hanya dukungan materi pelajaran, tapi juga konsultasi dari sisi motivasi, taktik dan strategi serta penajaman kemampuan pribadi.

Bagi para pengusaha, berpindah negara bukan berarti harus total berhenti dari aktivitas usaha di Indonesia. Di zaman digital di mana segala sesuatu hanya sejauh satu klik, bahkan perusahaan pun masih bisa dijalankan jarak jauh. Rina, yang kembali harus merantau pada tahun 2012 untuk mendampingi suami yang kala itu bekerja di Abu Dhabi, tetap menjalankan perusahaannya yang terus tumbuh dan berkembang. Pemilik merk dagang Mukena Tatuis ini sekarang masih saja merantau mendampingi suami dan menjaga keluarga yang menetap di Manchester dan PT Tatuis Cahaya International masih terus eksis di bawah kepemimpinannya bahkan karyawannya meningkat lebih dari 3 kali lipat.

 

Menyambut Tantangan dan Berkiprah di Pentas Global

Berkiprah dan melanjutkan karya di negara lain adalah tantangan tersendiri bagi para perantau. Reza, yang sejak kecil selalu menjadi pelajar terbaik di Indonesia, di masa awal perantauannya merasakan beratnya perubahan paradigma. Terbiasa  pasif menjadi harus aktif, terdoktrin terhadap satu jalan menjadi terbuka dengan berbagai kemungkinan. Butir-butir penting yang digarisbawahi untuk keluar dari kesulitan dan memenangkan pertarungan adalah mengenali kelemahan dalam teknik komunikasi. Kesulitan menyampaikan buah pikirian dengan tepat, akurat, dan baik tanpa emosi adalah yang pertama harus diatasi. Yang selanjutnya; kesulitan bekerja sama yang dibangun dari sikap berkompetisi sejak dini di lingkungan sekolah dahulu menjadi tantangan yang perlu ditaklukan. Menanamkan dalam hati bekerja sama bukan berarti kalah dalam bersaing melainkan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

Ketika kelemahan-kelemahan mendasar telah dikenali dan diatasi, berkiprah di dunia global bukan lagi hal mustahil. Sejak meraih best grade average sebagai mahasiswa pasca sarjana di Delft University of Technology, Reza terus maju baik di bidang studi maupun setelah memasuki dunia profesional.

Tantangan lain bagi para pekerja profesional Indonesia adalah meningkatkan citra Indonesia di mata dunia, terutama di negara-negara yang banyak memanfaatkan tenaga kerja domestik Indonesia. Di negara-negara Timur Tengah, Malaysia, atau Hongkong, bagi warga baik penduduk lokal maupun pendatang, Indonesia adalah masyarakat kelas dua, padahal ada ratusan bahkan ribuan profesional Indonesia. Pekerja profesional Indonesia jadi semakin dituntut untuk mampu menunjukkan kinerja terbaiknya.

 

Tinggal di mana pun di berbagai belahan dunia, suka dan duka selalu dipergilirkan, demikian pula kemudahan dan tantangan. Jauh dari lingkungan keluarga terdekat, urusan izin tinggal dan legalitas, tak jarang pula diskiriminasi SARA adalah cerita-cerita kesulitan perantau yang sering luput dari pandangan. Keinginan kembali ke Indonesia, berbakti dan berkiprah untuk negara masih ada di hati kecil sebagian besar perantau. Semoga para perantau yang kembali membawa pengalaman-pengalaman terbaiknya untuk lebih memberdayakan lagi bangsa Indonesia.

Parents-Teacher Meeting dan Masa Kanak-kanak

Ga kerasa udah mid-term aja, ada undangan parents-teacher meeting. Dikasih alokasi waktu dan dipersilakan milih. Kami milih sore pulang kantor jadi KangMas bisa dateng juga dan pergi bareng dari rumah, sepedahan sore-sore.
Sampe di sekolah nunggu bentar sebelum akhirnya dapet giliran.
Seperti biasa kami dengerin komentar dari gurunya. Standar aja sih, Raisha bisa beradaptasi dengan baik, dia is the top in class, bacanya lancar, nulisnya rapi, englishnya excellent, dia mengerti dan aktif saat guru menerangkan pelajarannya, dan math-nya juga okey.

Ruang Kelas Raisha

Ruang Kelas Raisha

Oiya di sekolah Raisha seperti yang pernah diceritain awal-awal dulu, pendekatannya sangat personal. Jadi setiap anak assignment-nya beda-beda disesuaikan dengan kemampuan ga dipaksa harus mengikuti standar tertentu. Misalnya untuk spelling test, ada levelnya, jadi meski satu kelas spelling testnya belum tentu sama (hampir pasti beda hehe). Reading juga dibagi-bagi dalam colour level. Kemampuan membaca anak terpantau banget karena mereka tiap hari membawa pulang buku untuk dibaca yang udah dibaca bersama gurunya di sekolah. Si murid membaca dan guru mendengarkan. Nanti sang guru mencatatkan kesan pesannya di Reading Record. Anak-anak dididik untuk cinta membaca sejak dini jadi mereka terbiasa baca di mana aja.

Kami orang tua Raisha emang ga pernah kuatir dengan literacy Raisha, dia memang really into it. Seneng banget sama baca-baca, nulis-nulis. Yang kita suka bertanya-tanya matematiknya, abis dia ga terlalu suka dan gampang nyerah, ditambah tak terpantau karena ga ada PR dan buku semua ditinggal di sekolah. Tp ternyata matematiknya juga oke. Miss Fran, wali kelasnya, bilang dia ga ada masalah dengan matematik. Liat nih, dia bisa mengerjakan ini dengan lancar, sambil nunjukkin satu halaman kerjaannya. Mas dan saya nyengir, secara itu yang dikerjain dengan lancar udah setengah mati saya ajarin waktu dia mau ujian masuk kelas 1 dari reception.

Jadi inget pidato akhir taun ajaran dan perpisahan Mr. Christopher Fitzgerald, kepala sekolah Raisha yang lama di Mutiara. Waktu itu acara Speech Day and Prize Giving Ceremony. Kami dateng karena selain saya emang selalu berusaha hadir di acara sekolah Raisha, Ms. Esther, wali kelas Raisha dah sengaja dateng ke mobil waktu saya jemput Raisha minta saya hadir. Pas pidato akhir taun ini, Mr. Fitzgerald mengungkapkan fakta-fakta ttg pendidikan. Yang pertama yang membekas banget, usia mulai pendidikan belum menentukan hasil pendidikan di kemudian hari. Beliau ngasih contoh di Finlandia, usia memulai pendidikan dasar adalah 7 taun tapi terbukti Finlandia adalah penghasil lulusan2 terbaik di dunia dibandingkan di Amrik yang memulai di umur 5 taun.

Udah gitu ternyata juga lamanya seorang anak belajar di kelas belum tentu menghasilkan penyerapan ilmu yang lebih banyak. Mr. Fitzgerald bilang, jadi coba para orangtua yang membawa anaknya ke kelas2 pelajaran tambahan melakukan pratinjau lagi apakah hasilnya cukup efektif atau hanya membuat anak lelah.

Dan yang penting lagi, penguasaan bahasa ibu. Anak selayaknya lancar dan fasih berbahasa ibu dulu sebelum bertambah (bukan berpindah) dengan bahasa lain. Ini memudahkan anak untuk menguasai banyak bahasa dan menekan tombol switch saat harus berbicara dalam berbagai bahasa. Saya perhatiin di sini temen-temen Raisha lebih nyaman menggunakan bahasa ibu-nya dibanding bahasa inggris. Jadi kalo orang tua menjemput, mereka langsung tekan switch pindah bahasa ibu, kalo ngobrol sama temen baru ganti lagi. Beda sama waktu dulu di Mutiara, lebih sering terlihat saat anak sudah bersama keluarga pun mereka tetep berbahasa Inggris.

Sukaaa banget deh sama pidatonya Mr. Fitzgerald ini. Soalnya mendukung saya buat ga masukin Raisha (dan Dinda nantinya) ke berbagai macam les yang sifatnya akademik. Jadi mereka punya lebih waktu untuk bermain dan belajar yang lain-lain; kayak taekwondo, balet, piano dan sebangsanya. Saya sangat menghargai masa kanak-kanak yang cuman 12 taun ituh… Manfaatkan buat having fun sepuas-puasnya. Main yang fun, taekwondo dengan gembira, balet krn seneng, piano juga bikin hepi sehingga sekolah pun ga bosen dan dinikmati ;-).
Anyway, kalo saya menekankan penggunaan bahasa ibu sama Raisha dan Dinda sebenernya sederhana, liat temen2 kuliah dulu bisa menguasai 3 – 5 bahasa, gampang banget switch-nya, jadi pengennya anak2 juga bisa banyak bahasa dan pastinya ga lucu kalo bisa banyak bahasa ga bisa bahasa ibu-nya :D.

Mendefinisikan Kembali Kata Kerja

Belakangan ini saya update teknologi lagi. Yang biasanya buka email n facebook ga tiap hari, jadi beberapa kali sehari. Jadi mulai keperhatiin lah status temen-temen di FB. Hmmm, kayaknya pada sibuk banget ya. Apalagi para ibu bekerja itu. Duh, udah pusying ama meeting di kantor, masih harus mikirin PR anak sekolah.
Akibatnya jadi bertanya-tanya pada diri sendiri… Saya ngapain aja ya dari hari ke hari? Apalagi baca komen kayak gini di salah satu notes tentang working mom, “And gw juga kadang suka ngiri sama ibu rumah tangga…g ada deadline, butuh duit tinggal minta suami & banyak waktu buat anak.”
What? Itu iri ato ngejek ibu rumah tangga yang nyantei2 ga ada deadline dan tinggal minta duit sama suami kalo butuh.

Sebagai ibu rumah tangga yang (awalnya) dipaksa keadaan untuk berhenti jadi working woman dan setengah mati menekan *pinjem istilahnya Kak Nataya* keinginan eksploitasi eksistensi diri dan menemukan kecerdikan untuk mendapatkan me time untuk diri sendiri, sungguh ego saya terusik.
Emangnya dibanding para working women itu saya santei, berleha-leha dan ga ada deadline ya?
Tapi kenapa saya hampir ga menemukan waktu untuk diri saya sendiri?

Saya tilik jadwal saya sehari2. Bangun pukul 4, nyiapin sarapan (dan makan siang anak-anak), periksa keperluan sekolah si teteh dan dinda, nyetrika seragam pasukan kalo pas ternyata belum disetrika, bangunin anak2, mandiin dinda dan membiarkan si teteh mandi sendiri, dress up, kemudian memacu MyVi di jalan karena hampir selalu waktunya udah mepet jam masuk sekolah si teteh.
Abis drop si teteh, biasanya parkir, nyuapin dinda sarapan. Kalo pergi sama Mas, Mas sibuk baca Detik, ato melanjutkan hapalan Qurannya (ini yang saya suka, karena saya kecipratan ngapalin juga biarpun sambil nyuapin). Seusai nge-drop Dinda (dan Mas) yang waktunya sama aja disebabkan kemacetannya baik nge-drop Mas dulu maupun tidak, sampe rumah saya segera sarapan karena emang uda keroncongan blm sempet makan.
Abis tu berusaha beres2 rumah yang lebih mirip kapal pecah daripada apartemen yang ditinggali keluarga mungil. Jemur baju yang udah saya puter di mesin sebelum nganter anak2, gedubrakan lagi nyiapin buat berangkat ngaji, kemudian lagi2 saya memacu MyVi ke tempat kajian ilmu dilaksanakan. Selain membekali diri sendiri, juga bekel buat ngajar anak2 soalnya.

Ntar saya keluar dari kajian ilmu duluan karena harus jemput Dinda. Pulang biasanya nemenin Dinda makan, sholat dan temen2nya, ga kerasa udah waktunya jemput si teteh. Biasanya saya dateng agak cepet buat dapet parkir yang enak. Sekitar 10 – 15 menit sebelum bel berdering saya udah nangkring di parkiran. Dan untuk mengisi yang 10 – 15 menit ini, biasanya saya baca buku supaya ga ada waktu yang terbuang sia2.

Pulang sekolah biasanya si teteh makan dan ngerjain PR kalo ada (sambil daku berusaha menyingkirkan dinda-nya yang keep annoying her). Kalo ga ada, nemenin dia nyobain lagi lagu2 YAMAHA-nya di keyboard, ato baca Qiroati-nya. Dan meski dia pada akhirnya baca mungkin cuman 1/2 halaman buku Qiroatinya (that’s answer the question why she’s still in page 39 buku Qiroati 5-nya in the last 2 months), waktu yang diperlukan buat membujuknya membuka buku, membacanya sedikit-sedikit, sampe ahirnya dia ga mau lagi di baris ke-5 itu bisa mencapai 1 jam sendiri *sigh*. Kalow ga sibuk dengan latian Yamaha ato buku Qiroati-nya, saya biasanya anter dia ke tmp ngaji bareng temen2nya (yang mana daripada dia bisa dapet 4 – 5 halaman kalo bareng temen dan dibimbing ustadz/ustadzah mah), ato balet, ato dia ada ekskul jadi pulang ampe rumah udah sore dan cuape.

Jelang suami pulang, biasanya sibuk lagi di dapur, masak makan malem. Sumpah saya ga pernah masak yang aneh2 dan ngabisin waktu banyak, tapi tetep aja rasanya lama di dapur saking keburu-burunya takut suami keburu lapar.

Then I asked myself? Bener ga sih ibu rumah tangga itu ga ada deadline? Kalow emang ga ada, berarti pagi ga perlu gedubrakan siap-siap supaya si teteh ga telat masuk sekolah dan si Mas sampe kantor tepat waktu dong. Kalow ga ada tenggat waktu, di dapur ga perlu panik takut keburu Mas kelaparan dong. Ga perlu panik juga kalo gosokan sudah menggunung karena ga ada yang buru-buru perlu bajunya.
Ah, kayaknya ibu rumah tangga pun dikejar deadline dari jam ke jam setiap harinya ya?

Perlu duit tinggal minta sama suami? Hmmm, buat orang yang ga enakan seperti sayah, minta duit ama suami bukanlah hal yang mudah. Tapi emangnya saya perlu apa ya minta duit? Uang sekolah anak, bayar listrik, bayar air, belanja buat masak dan kebutuhan makan-minum sehari-hari, bukankah itu memang kebahagiaan suami saya kalo bisa memenuhinya. AlhamduliLlah bukan orang yang suka me-matching-kan baju dengan tas, ato hobi ngoleksi sepatu, or seneng ganti-ganti HP. Semua perlengkapan sandang pangan papan dicukupi ama suami tanpa perlu meminta. Kalow sampe saya harus minta, hemmmm, ga tau deh gimana saya mau ngomong buat mintanya, pasti ga enak ati banget, bukan enak2an aja minta.

Saya pernah mengalami juga jadi working woman. Ga enak ati buat minta izin sakit bahkan di saat saya sudah demam dan kehilangan suara karena beban pekerjaan yang tinggi, gelisah membayangkan anak di rumah yang kata pengasuhnya panas 38 derajat celcius tapi ga punya daya untuk pulang as I were in the middle of very important meeting, galau karena suami yang lagi cuti karena 1 Mei adalah hari buruh di Malaysia sini sementara di Indonesia waktu itu belum libur dan cuman bisa ngibrit ke Citos saat makan siang untuk meluangkan 1/2 jam bersama sebelum dia kembali ke KL. Yupe, I know it’s really not easy to become a working woman.

But becoming a full time housewife is not as simple as working woman can imagine either.
You hardly have time to hang around with your friends while working woman can meet up during lunch, you already forget when was the last time you had fancy dinner with your husband or went to the cinema with him, even it’s hard to find spare time to cut your hair properly in beauty salon. Wait… that’s me I am talking about. I have only 2 adorable daughters. I can’t imagine how about my friend, other full time housewife with children 3 times of mine? Berapa gunung gosokannya? Tapi kenapa dia masih bisa menghadiri kajian ilmu 3 kali seminggu dan dua minggu sekali masih bisa memeriksa hafalan surat saya tanpa harus membuka AlQuran sembari menggendong bayinya yang biasanya lelap tertidur di jam tersebut. Atau teman lain yang jumlah anaknya 2 kali lipat anak saya tapi masih sibuk dengan usaha catering dan desainnya…

Pada akhirnya sibuk dan dikejar deadline bukan melulu monopoli working woman… Dan pada akhirnya saya jadi teringat Ustadz Muntaha pernah bilang, “Ibu-ibu ini pernah ga ada yang nanya, ‘Ibu ga kerja ya?’. Kalo ditanya seperti itu, coba ibu balik tanya tentang definisi ‘kerja’. Apakah menggosok baju bukan kerja, memasak bukan kerja, membersihkan rumah bukan kerja?”

Every Moment is Priceless

Hari Kamis yang biasa… Pagi yang biasa juga, grabag grubug siapin Raisha sekolah dan si Mas ke kantor. Sedikit luar biasa karena harus lebih pagi, Raisha ada class assembly hari itu. Jadi kita sampe sekolah berbarengan anak2 primary dan secondary, padahal biasanya tinggal anak reception aja yang belum masuk, jadi kosong. Mobil pun terpaksa antri masuk sekolah. Tiba-tiba mata terpaut pada MyVi item di depan. Tampaknya yang nyupir seorang perempuan. Saya sama Mas langsung ngomong bareng, “Alisya sama mamanya ya?”

Mamanya Alisya adalah pegawai Petronas yang lagi di-assigned kantornya selama 2-3 taun di Myanmar. Jadi kehadirannya hari itu bukan sesuatu yang biasa.
Kami akhirnya memastikan bahwa memang Alisya dianter mamanya waktu nurunin Raisha di pager kelas reception.
Saya balik ke mobil, siap nganterin mas ke kantor. Di tol mas ngomong, “Aku nonton aja kali yaaa?” tampak mulai ragu buat ngantor.
“Terserah Mas,” kata saya.
Semalem Mas berencana ga akan nonton class assembly-nya Raisha, soalnya di kantor lagi banyak banget kerjaan bin dikejar deadline, ditambah sorenya ga bisa ngeganti jam yang ilang krn nonton itu soalnya ada undangan dari Yopi n Dewi buat menghadiri makan2 farewell-nya.

Waktu bayar tol dia akhirnya ngomong, “Aku nyimpen tas dulu ya di kantor, izin keluar 2 jam, trus kita pergi bareng lagi nonton Raisha. Masa mamanya Alisya aja dari Myanmar bela2in minta cuti, aku cuman minta izin 2 jam aja ga bisa.”

Jadi akhirnya begitulah…, nganter Mas dulu ke kantor dan balik lagi ke sekolah Raisha.
Sampe sekolah kita parkir barengan ama Wira warna gold. Papa dan mamanya Alisya turun dari mobil. Spontan saya menyapa, “Take a leave?
“Iye lah, 3 hari. Semalam baru datang. Nak tengok Alisya,” katanya lembut dan ramah.
“Ambil cuti 3 hari sampai Rabu, nak kawankan Alisya exam, tapi exam-nya dipost-pone. Tapi dah tak boleh tukar cuti,” tambahnya lagi.
Saya menghibur, dengan gaya melayu pula kebawa ama mamanya Alisya, “Tak pe lah, exam hari Kamis, sampai Rabu masih boleh ajar Alisya, nanti Kamis-Jumat Alisya tinggal exam je, tak payah belajar lagi.”

Saat itu lah saya menyadari betapa beruntungnya saya. Kapan saja saya diperlukan Raisha, Insya Allah saya tak jauh. Dekat dan mudah digapai.
Saat itu lah saya jadi malu karena sering tidak memanfaatkan momen-momen berharga yang hanya bisa dinikmati oleh ibu2 lain dengan susah payah.
Saat mengajar Raisha ngaji, sering ga sabar kalo dia masih salah2 aja, palagi sekarang ini nih waktu udah mulai masuk belajar tajwid.
Saat ngajar Raisha maen piano, gemes ngeliat dia males2an.
Saat Raisha ga mau belajar buat spelling test karena dia ngerasa udah bisa, sering saya ga cukup tabah untuk membujuknya dan membiarkannya berjuang sendiri.
Kalo liat para ibu yang harus berjuang buat meraih momen2 bersama putra-putrinya, baru saya menyadari kalo every moment with my daughters is priceless…

Be Careful What You Wish For

Dulu kala, di saat Indonesia cuman mengenal TVRI, RCTI blom lahir begitu pun SCTV palagi TransTV, di komplek tempat saya tinggal bersepakat pasang parabola yang bisa dinikmati seluruh penduduk kompleks dengan cara membayar iuran.
Jadilah kami di masa itu bisa nonton filem2 di TV3 Malaysia yang pada saat itu lebih mengasyikkan dibanding TVRI (meni teu cinta bangsa pisan). Ada Mission Impossible, MacGyver, dan salah satu yang saya suka banget sih Doogie Howser M.D.

Dr. Howser ini di akhir cerita biasanya nulis diary di komputer diakhiri dengan quote2 yang menarik buat saya yang kala itu masih duduk di bangku SD. Salah satu yang jadi quote favorit saya, “Be careful what you wish for, you just might get it!”

Maju sedikit ke tahun 2002, di mana umur saya waktu it udah 26, masih single n patah hati heuheuheu…
Saat itu jaman lagi dikejar setoran.., setoran kerjaan maksudnya. Jadi saya n temen2 sekantor para discipline engineer wajib lembur 2 jam sehari. Sebagai akibatnya, jam 1/2 7 kita baru jalan pulang nih nyari bis.
Suatu kali, dalam lelah, bersama temen seperjuangan saya berjalan dari Menara Batavia tmp kantor bercokol ke komdak (skrg plaza semanggi) tmp bis lewat. Capek, bete, ditambah membayangkan perjalanan pulang menuju Cikarang (exit km31 tol cikampek bo!) di dalam bis Mayasari AC 121 yang selalu penuh sehingga mengakibatkan dirikyu selalu harus gelantungan, kami bedua ngelamun bersama… Ngebayangin suatu hari ada pangeran tampan nan kaya yang jadi suami kita masing2 n bikin kita ga usah kerja lagi, dan menggantikan rutinitas ngantor dengan pengajian dan arisan hihihi…

Be careful what you wish for…, you just might get it! Yupe! Taun 2006, that wish came true 😀
Teman saya menyusul beberapa bulan yang lalu, berhenti kerja dan jadi full time house wife 🙂

Produktif dan ga produktif

“Neng ga pengen kerja lagi?” Mas nanya.
Saya rada ngahuleng sebentar. Heran… masak sih ga ngerti? Trus ngejawab, “Mas… kalo pengen kerja mah ga pernah berhenti pengen. Ini kan krn kondisi aja berhenti kerja. Cuman ada saatnya bisa ditahan, ada saatnya bikin bt ga puguh.”
Seperti kemaren2 ini, waktu baru balik abis mudik. Duh rasanya kangen banget ngantor lagi, palagi liat para working mom yang anaknya udah mau 2 ato bahkan udah 2 tp masih aktif ngejar sesuap nasi di kantor.

Emang dibanding awal2 jadi full time mom, udah lebih bisa manage perasaan pengen kerja-nya. Semuanya dilarikan ke sesuatu yang produktif.
Jangan salah sangka, bukan ga suka ama pekerjaan rumah tangga. Pada dasarnya saya orang yang gampang menikmati kerjaan. Saya betah nyuci piring, duduk nyetrika, bebenah, dan apalagi main sama Raisha tanpa merasa bosan. Salah satu alasan saya ga pernah punya asisten setiap kali saya di rumah aja (seperti waktu jadi part-timer ngerjain Knowledge Management-nya Medco Methanol Bunyu di mana saya kerja dari rumah, ato selama 5 bulan masa saya cuti dari kerjaan kantoran waktu Raisha baru lahir) adalah karena saya lebih suka melakukan semuanya sendiri. Ditambah lagi, saya teh perfectionist sejati. Rasanya ga tahan deh liat kerjaan asisten. Hasil setrikaan selalu bikin saya pengen nyetrika lagi, ngepel kurang kering jadi becek, nyuci piring koq ya bekas teh di gelas masih keliatan, dll dsb yang bakal bikin asisten ga tahan punya majikan kayak saya (ato yang terjadi adalah kebalikannya, saya makan ati ngeliat kerjaannya tp teuteup diterima juga krn perlu yang jaga Raisha selama saya ngantor).
Jadi saya bisa menikmati pekerjaan di rumah dengan senang hati. Yang tidak bisa saya nikmati adalah perasaan ga produktif, ga ada perkembangan pribadi (dari segi keilmuan yang saya peroleh selama saya kuliah, padahal kan kalo dari segi kewanitaan sih berkembang huehehe), dan perasaan tertinggal dalam bidang di mana saya biasa berkecimpung.

Apalagi waktu seorang temen pernah nanya, “Loe di rumah aja di sono?”
“Yoi…,” saya jawab.
“Ga gawe?” dia ngejer
“Ga,” saya ngejawab pendek krn bingung mo jawab panjang mah gimana.
“Hah?? Bisa ga sih loe lebih produktif? Inget loe punya utang banyak sama para pembayar pajak yang udah nyubsidi sekolah elu dari SD ampe TK. Inget loe punya utang sama DAAD buat menyebarkan ilmu elu…”
Huhuhuhu… saya bukan sekedar bt digituin tp juga jadi sedih. Kalo dia yang dapet beasiswa DAAD kali lebih bermanfaat ya dibanding saya yang akhirnya menerapkan teori-teori keselamatan itu di seputar urusan ngasuh anak dan rumah tangga.

Emang akhirnya saya lari ke usaha-usaha untuk meningkatkan produktivitas yang agak tersendat2 krn kebingungan nyari cara. Paling ga, kalo ada tugas terjemahan artikel ato brosur tentang keselamatan proses atopun keselamatan pada umumnya, pasti saya usahakan segera selasai. Ditambah ada proyek pribadi yang sekarang ini akhirnya udah di-launch ke komunitas yang concern tentang proses, keselamatan proses, dan keselamatan pada umumnya (duh pusing ya bacanya, ini curhat banget soalnya), tapi masih mandeg di situ belom ada perkembangan krn blum ada persetujuan dan langkah lanjutan.
Tapi tetep aja perasaan ga produktif dan ga berkembangnya menyesakkan dada.

Sampai akhirnya hari Kamis kemaren saya ditegur Allah lewat Ustadz Muntaha di kuliah tafsir perdananya di rumah Mbak Winny.
Beliau bilang, saat kita jauh di luar seperti ini, saat sanak-keluarga sulit kita datangi untuk sekedar silaturahmi (baca: ngobrol ngalor ngidul), saat ga banyak tetek-bengek yang harus kita urusin, ini saat kita punya waktu baaaanyak buat memperbaiki kualitas diri.
Deg… iya… saya sering terlupa hal penting ini. Waktu saya masih ngantor, berapa banyak waktu saya yang bisa diluangkan untuk menghadiri ta’lim dan ceramah. Tuhan tahu, dalam sebulan belom tentu sampe dua kali bisa dateng ke majelis ta’lim yang umum. Apalagi setelah ada Raisha, Sabtu-Minggu pun rasanya enggan bergerak dari rumah.
Saya ingat-ingat kapan terakhir saya hadiri kajian tafsir yang rutin. Sudah lama sekali… sekitar 6-7 taun yang lalu waktu masih kerja di Bandung.
Sementara di sini,… waktu saya banyak. Saya bisa nge-charge ruhani lewat majelis ta’lim WIATMI seminggu sekali, IndoKL-Women 2 minggu sekali, dan kajian tafsir seminggu sekali. Betapa banyak sebenernya hal-hal yang bisa saya lakukan untuk pengembangan pribadi asal kan saya tidak terpaku pada definisi pengembangan pribadi = pengembangan karir dan ilmu saya di bidang yang selama ini saya tekuni.

Empat langkah yang disarankan oleh Ustadz Muntaha untuk meningkatkan kualitas dan mengembangkan diri mestinya cukup buat bekal saya sekarang:
1. Azzam, tekadkan untuk mencapai suatu target tertentu selama tinggal di luar negeri. Misalnya menyelesaikan membaca tafsir Al Azhar dari juz 1 sampe 30.
2. Manajemen waktu,… hohoho… ini mah dirasain sendiri aja dah. Kadang2 emang dipikir2 terlalu banyak waktu saya habiskan buat nyetrika (da perfectionist tea…)
3. Belajar dengan banyak bertanya dan kritis
dan yang terakhir, untuk menghindari fanatisme dan kultus individu, belajarlah dari banyak orang – jangan hanya satu guru.

Melembutkan Hati

Sejak kecil saya selalu dianter-jemput mobil. Dulu waktu kecil, rumah saya di Cigadung sementara sekolah di SD Sabang. Cigadung jaman dulu adalah daerah terpencil (kekekekek) yang sulit dijangkau angkutan umum. Nasib baik Bapak punya mobil dan beliau punya waktu untuk anter jemput anak2nya sekaligus makan siang di rumah.
Acara anter-jemput terus berlangsung sampe saya kelas 1 SMA meski akhirnya saat itu Cigadung sudah terjamah angkot.

Akhirnya kebiasaan dianter jemput berhenti juga karena saya punya SIM. Kebetulan adik2 sekolahnya sebelahan, saya di SMA 3 (Bdg) sementara adek2 di SMA 5. Jd sekali nyupir, 3 orang terantarkan.

Sejak kuliah, krn tempat saya bersekolah yang paling deket ama rumah, mobil dibawa adik saya. Jd saya jarang bawa mobil ke kampus dan mulai ngangkot. Tp masih jarang2. Abis tu, adik mulai kuliah juga, sementara bapak ‘cuman’ pegawai negeri yang meski golongan ampir mentok ke atas, tetep aja kehidupan megap2 hehehe… Mobil dilego buat biaya kuliah. Mulai lah saat2 saya ke kampus terus menerus naek angkot.

Rasanya buat saya yang selalu dianter jemput ato naek mobil sendiri, saat itu teh ga enakkkk bangettt. Palagi angkot pink dari Cigadung ke Dago itu selain jarang banget frekuensinya, sekalinya lewat penuuuuuh. Jd udah mah bt nunggu angkot, tetep we akhirnya keukeuh kudu jalan dulu ke tubagus sebelum naek angkot Caringin-Sdg Serang.
Beban ke-bt-an bertambah krn saat itu 2 teman terdekat saya semasa kuliah bawa mobil sendiri ato dianter-jemput pacar. Jadi saat saya keluar kampus mo jalan ke pasar simpang dalam rangka mencari angkot pink yang selalunya ngetem di sana atopun kalo lagi ga ada berarti pasaran lagi rame, 2 temen saya itu sudah ditunggu pacarnya dengan mobil masing-masing – sigh -. Saat itu kepikiran,…”Duh pengen deh punya pacar yang ada mobil, jadi bisa dianter jemput.” Cewek bensin banget deh daku hehehe…

Apadaya saat itu hati saya ternayata pada akhirnya tertambat pada mahasiswa biasa2 saja, yang buat makan sehari-hari pun jatahnya rebutan ama jatah nelpon saya dari telpon umum wekekek… Jadi angkot pink teuteup jadi sahabat setia setiap saat kalo butuh mo pergi2. Teuteup sambil misuh2 setiap kali harus nunggu doi lewat, tetap mengutuk2 klo sekalinya lewat bahkan untuk ‘nggantung’ di pintu pun udah ga ada tempat.

Sahabat setia saya akhirnya di-phk krn saya pindah ke jakarta (nge-kost) sementara kerja di cikarang. Tetep masih ga punya kendaraan pribadi sementara pacar juga sama-sama masih nge-bis. Kali ini sahabat berganti jadi bajay, kopaja 66 dan dilanjutkan oleh bis jemputan kantor. Hal itu terus berlangsung sampe akhirnya (mantan) pacar saya punya mobil. Bukan… bukan saya jadi dianter-anter pacar, tp saya diputusin pacar sementara dia dengan mobil baru-nya nganter-nganter pacar yang baru juga dong. Mobil baru memang lebih layak sama pacar baru kan daripada sama pacar lama, biar serasi gitu lho…

Saya akhirnya pindah kost ke Cikarang. Jadi langganan abang ojek di depan perumahan. Jadi langganan angkot Cikarang-Cibarusah, dan jadi langganan Patas AC Mayasari Bakti No. 121 jurusan Blok M – Cikarang ato Shuttle Bis Lippo – Cikarang. Iyah, soalnya meski saya pindah kost ke Cikarang, kerja saya pindah ke Jakarta heuheuheu… Harap dimaklum dong kan kita lagi super duper error waktu itu.

Kali ini ke-bt-an saya ama kendaraan umum kembali naek ke permukaan. Bt krn AC 121 itu susah banget, jarang lewat. Jadi saat musim hujan, saya sering kesal setengah mati, jalan dari menara batavia ke komdak, udah dingin-dingin kehujanan… masih harus nunggu pula itu bis lewat. Dasar sakit jiwa, tidak cukup penderitaan kehujanan dan menunggu, masih ditambah dengan ngebayangin (mantan) pacar yang duduk nyaman di mobil baru bersama pacar baru huahuahua…

Tapi akhirnya saya insaf dari bt dan marah2 karena ga merasakan kenyamanan mobil pribadi setelah diperkenalkan seorang sahabat kepada teman saya yang satu ini yang kemudian jadi sahabat saya. Dia adalah pencinta KRL. Sampe bikin saya heran setengah mati. Apa yang bikin jatuh cinta yaaa…

Ternyata kuncinya adalah menikmati. Daripada fokus dengan ketidaknyamanan, bau keringat, basah kehujanan, berdesakan, dan lain2 yang tidak nikmat lainnya, mending juga menikmati dengan sepenuh hati apa yang ada. Sejak saat itu saya jadi menikmati setiap detik saya naik angkutan umum. Bukan sekedar saat naik angkutannya saja, saat berjalan menuju tempat bis, saya juga menikmati dengan hati.

Menikmati saat-saat sore menjelang maghrib di sepanjang benhil – sudirman – komdak sambil memerhatikan beragam orang yang lalu lalang, tukang koran yang berjualan koran sore yang secara mengejutkan menyapa saya sambil tersenyum, “Masih di Cikarang, Mbak?” (hah? koq tau saya dari cikarang, ah pasti mantan tukang ojek perumahan nih), abang mie ayam di komdak yang asik memelintir mie-nya tanpa peduli antrian pembeli (sekarang di mana yah?), sepeda motor yang menyemut dan bunyinya menggerung-gerung, dan segala jenis kehidupan di jalan yang tidak akan saya temui kalo saya asyik menikmati AC mobil seraya mendengar cuap-cuap penyiar radio yang menemani pengemudi menempuh macetnya ibu kota.

Saat di bis saya mulai belajar mensyukuri apa yang saya miliki. Pekerjaan saya mengizinkan saya pake baju bagus dan kantor yang ber-ac membuat saya tetap wangi di sore hari sementara kebanyakan penghuni bis sudah lusuh dan bau keringat krn kehidupan menuntutnya bekerja keras bermandi peluh. Saya masih bisa bersyukur punya kesempatan beramal memberi tempat duduk pada ibu hamil yang kepayahan berdiri sementara orang lain di bis sana sudah terlalu lelah bahkan untuk membuka mata.

Di satu kesempatan saya juga pernah harus naik KRL ditemani sahabat saya (dan ini menjawab pertanyaan saya yang dulu sering heran melihat sering banyak orang duduk2 di pagar jalan seberang menara syahidah, ternyata ada stasiun krl cawang ya di situh), dan saya semakin mensyukuri hidup saya. Berdesakan, sulit bergerak bahkan di saat hendak turun, bercampur dengan ayam, bersama ibu hamil yang membawa tiga anak kecil tergencet diantara penumpang2 krl lainnya… ya Allah, betapa banyak nikmat kenyamanan dan kemudahan yang sudah Engkau berikan kepadaku!!

Saya jadi kecanduan angkutan umum… Banyak hal yang bisa saya lihat dan nikmati di sana, membuka pikiran dan menambah kemampuan saya bersyukur atas anugrahNya. Ternyata naik angkutan umum bukan hanya sarana untuk memindahkan saya dari satu tempat ke tempat yang lain, tapi juga sarana untuk melembutkan hati…

Dimudahkan oleh Teknologi

Saya sering takjub dengan apa yang disebut teknologi. Betapa banyak kemudahan dan kenyamanan yang bisa diperoleh darinya. Tak usahlah menyebutkan teknologi canggih nan rumit seperti teknologi satelit dan ruang angkasa atau pun teknologi nuklir yang terus menuai kontroversi. Cukup teknologi-teknologi sederhana pun sudah membuat saya terpesona.

Dengan penemuan teknologi, terciptalah internet. Keajaiban yang menautkan saya dengan calon potensial pendamping hidup saya. E-mail dan Yahoo Messenger membuat saya bisa mengakrabi-nya tanpa harus menghabiskan banyak biaya untuk bertemu mengingat kami terpisah ratusan ribu kilometer saat itu. Memutuskan menikah dengannya adalah berkat pertolongan teknologi bernama internet.

Saat saya baru lulus kuliah dan jadi asisten peneliti pada sebuah proyek pengembangan energi baru, saya takjub dengan teknologi gas kromatografi. Bagaimana bisa hanya dengan memasukkan beberapa mikron cairan, hasil analisis kandungan cairan tersebut bisa langsung keluar dalam bentuk cetak. Menghindarkan dari pemborosan bahan kimia karena harus membuat sampel dalam kuantitas besar untuk menganalisis zat-zat di dalam sampel dengan berbagai metoda konvensional seperti titrasi ataupun gravimetri.

Ketika pekerjaan saya jadi servis engineer, lagi-lagi saya sering merasakan dimudahkan oleh alat analisis super canggih bernama DR-2000. Klien saya yang tidak sabaran sering meminta hasil analisis airnya seperti minta kopi instan. Langsung ada begitu diseduh. Bikin saya pusing kepala mencari jalan supaya orang laboratorium segera mengeluarkan hasil analisis. Bukan saja karena antrian panjang klien-klien yang menunggu sampel airnya dianalisis, tapi juga waktu analisis konvensional yang cukup lama. Titrasi kadang membutuhkan waktu panjang karena prosedur meminta untuk larutan sampel disimpan dulu selama beberapa jam sebelum bisa dititrasi, apalagi gravimetri. Belum lagi human error seperti kelebihan setetes karena meleng… hah, tambah lama. DR-2000 yang berbasis transmisi cahaya ini menyederhanakan masalah. Dengan akurasi yang menghampiri metode konvensional, hasil analisis bisa didapat kurang dari 1 jam dan bisa dilakukan sendiri, ga perlu nunggu orang lab.

Di tempat kerja berikutnya saya merasakan penyesalan yang mendalam saat memanfaatkan software HYSYS dan Pipesim. Masya Allah, ngitung neraca massa dan energi untuk suatu proses yang cukup panjang koq ya cuman butuh beberapa menit. Jadi ingat masa2 penyiksaan rancangan pabrik. Belum ngitung nih, baru nyari data aja udah abis, hmmm, 2 minggu??? Yah pokonya 4 minggu waktu yang diberikan untuk menyelesaikan neraca massa dan energi menggunakan cara manual dengan bantuan spreadsheet itu rasanya tidak cukup. Terengah2 kami mengerjakannya, ditunggu ampe jam 2 pagi pun sulit sekali mencapai “balance”. Andai kita boleh pake HYSYS waktu mengerjakan rancangan pabrik ya…

Belakangan ini saya juga masih saja merasakan kemudahan karena teknologi. Hmmm, teringat jaman SD…, bikin bolu kukus perlu waktu seharian. Seharian buat ngocok telur-nya doang. Tangan2 mungilku sampe pegel dan lecet ngocok telur sampai mengembang. Sekarang… mixer memudahkan segalanya. Beberapa menit saja cukup untuk membuat telur mengembang.

Sebelum punya blender, saya males banget masak2. Sayur asem,… duh males ngulek. Soto,… duh, bukannya itu teh harus diulek ya bumbunya. Akhirnya masak yang ga ada acara ulek2 bumbu. Sop lagi, semur lagi. Ato sayur bayem dan tumis kangkung. Bosen ga sih Mas? Engga ya Mas ya…* maksa dot com * nasi pecel, anyone??Setelah punya blender, makanan jadi bervariasi. Bisa menyediakan siomay bandung kesukaan mas * mas, kalo sepuluh potong sekali makan mah namanya kalap, bukan enak *, masak soto dan sayur asem juga jadi ga males lagi. Ga perlu juga nyari2 lagi bumbu pecel karangsari yang uenak itu * Hai Dhin, di Belanda gampang ya cari bumbu pecel karangsari, ga kaya dulu kita harus ke Hamburg dulu cuman mo beli bumbu pecel *. Sekarang, blender bisa menghaluskan kacang tanah goreng dan melembutkan bawang putih serta cabe. Sebentar saja pecel madiun kesukaan mas tersedia. Nyam nyam, nasi pecel, anyone???

Antara Mimpi dan Keyakinan

Februari sudah mendekati akhir. Awalnya saya pikir saya hanya menunda,… menunda bikin resolusi taun baru. Sekarang saya sadar, saya tidak akan membuat resolusi taun baru untuk taun ini. Saya terlalu bingung untuk menetapkan target dan menentukan langkah2 mencapainya. Lebih tepatnya, saya ada dalam kondisi ga tau mau ke mana dan mau ngapain. Boro-boro mikirin target jangka pendek tahunan, rencana global 10 taunan aja ga kebayang.

Belakangan ini terasa sulit untuk merancang dan mencapai sesuatu yang sesuai dengan rencana awal. Terlalu banyak disturbance, terlalu banyak variabel yang tidak bisa dikendalikan, terlalu banyak simpangan dan error… ah Pak Sas dan Pak Robert, kuliah Pengendalian dari bapak2 tampaknya tidak berhasil saya aplikasikan.
Belakangan ini saya jadi lebih terasa mengalir saja * atau lebih tepatnya terbawa arus *, mengikuti jalan nasib, tak berani menetapkan tujuan, apalagi untuk bermimpi dengan sepenuh keyakinan.

Padahal menurut hukum keyakinan yang dibisikkan seorang teman;

apapun yg kita yakini dengan sepenuh hati akan menjadi kebenaran kita
kebenaran itu yg membentuk realitas kita….
realitas kita yang membatasi semua kelakuan kita
dan capaian…

Di lain pihak, setiap kali bermimpi, saya justru merasa terbentur realitas. Akibatnya di saat mengkaji ulang masa-masa yang lalu dan merancang rupa masa di hadapan, perasaan tak berdaya hinggap. Pertanyaan, “Apa yang telah saya capai dalam umur segini dan apalagi yang mau saya capai?” terasa menakutkan. Menakutkan karena merasa tidak ada prestasi khusus yang telah dicapai, menakutkan karena belum terbayang apalagi yang ingin dicapai.

Tampaknya bukan saya seorang yang merasa seperti ini. Sahabatku di sini, dan di sana, juga beberapa surat elektronik yang mampir di inbox dari beberapa sahabat tampaknya merasakan kegalauan yang sama.
Mungkinkah ini hanya sekedar krisis usia 30 * what…?? udah 30 yah? *
Saya harap iya… Semoga segera lewat, segera berani kembali menggantungkan mimpi dan cita-cita, dan segera berdaya menggapainya dengan segala keyakinan.

Lagi2 seorang teman menyemangati lewat puisi indah dan bijak Toto Tasmara:

when you change your thinking you change your beliefs
when you change your beliefs you change your expectations
when you change your expectations you change your attitude
when you change your attitude you change your behaviour
when you change your behaviour you change your performance
when you change your performance you change your destiny
when you change your destiny you change your life

(masih) Tentang Friendster

Seorang teman terbaik saya akan menikah dalam minggu2 di depan ini. Teman seperjuangan. Temen senasib di masa2 watawww edan-eling lieur-na!! Teman berbagi selama masa-masa berat penuh darah dan air mata itu. Waktu itu dia akhirnya mabur ke Jerman, sekalian sekolah sekalian menata ulang hidup. Dan saya tergoda untuk melakukan hal yang sama, mencoba menata ulang hidup saya yang saat itu berantakan banget dengan mencari lingkungan baru. Meski tak satu kota, komunikasi kami terjalin sangat baik sejak di Jerman (secara di sana YM! bisa nyala setiap saat dengan kecepatan tinggi tanpa perlu mengkhawatirkan argo bytes nya).

Saya hanya sekali berjumpa dengannya di sana. Salam 2003 di Berlin (ato Hannover yah… hmm, kayanya Hannover). Waktu itu dia sudah memperkenalkan cowok baru-nya, namun suasana hatinya belum terlihat membaik. Belakangan ternyata dia kembali harus berhadapan dengan kepahitan dulu sebelum bertemu dengan calon suaminya yang sekarang. Sempat dia pulang ke Indonesia untuk magang, dan lagi2 kami bertemu hanya sekali. Dalam waktu yang singkat di pernikahan salah seorang sahabat kami, pernikahan pertama yang dihadiri Raisha yang saat itu baru 1 bulan. Kali ini wajahnya sudah cerah-ceria, sama seperti saya saat itu.

Salah seorang teman terbaik saya… yang mungkin cerita hidupnya paling berliku. Saya bangga punya teman setangguh dia. Ada masa-masa labil-nya, masa-masa dia tampak sangat menuruti hatinya dan kurang berpikir rasional, tapi at all dia tetaplah wanita yang tangguh di mata saya. Senang akhirnya dia menemukan pelabuhan terakhirnya… semoga…

Btw,… mereka bertemu di sini. Saya ingat waktu itu libur. Libur semester atau libur apa yah? Tak ingat dengan pasti. Dia bercerita akan pergi ke Koeln untuk menghabiskan liburannya. Saat itu saya menggodanya, “Ada siapa di Koeln?”. Ternyata memang dia ke Koeln untuk kopi darat dengan orang yang menyapa lewat pesan di sini yang berlanjut ke telpon2 panjang penuh cerita, tawa dan curhat tentu. Syukurlah sekembalinya dari Koeln, kabar gembira terus berlanjut.

Ini pasangan kedua yang saya kenal yang bertemu lewat situs ini. Seorang Magdeburger malah lebih hebat lagi ceritanya. Setelah saling sapa lewat pesan singkat di Friendster, berlanjut ke YM! yang dalam 4 hari ditindak-lanjuti dengan mengubah status di Friendster dari single menjadi in relationship. Kemudian dalam sebulan sudah menentukan tanggal pernikahan. Padahal calon istri saat itu ada di Indonesia dan belum pernah ketemu langsung. Toh akhirnya tanggal pernikahan itu terwujud dan sekarang mereka sudah dikaruniai seorang putra yang sehat dan tampan seusia Raisha.

Hari gini masih ngomongin Friendster ya… Ketinggalan amat perasaan. Yah, sampai saat ini saya belum berhenti buka situs yang satu ini. Buat saya, Friendster salah satu benda menakjubkan yang membuat saya selalu terhubung dengan teman2 saya. Rasanya senang bertemu di dunia maya dengan teman2 yang bahkan sampai sepuluh tahun tidak bertatap muka. Sebagai orang yang menganggap teman adalah harta yang sangat berharga dan investasi yang tak pernah merugi, Friendster juga membantu saya untuk keep updated regarding my friend’s news. Jadi kalo menurut orang mungkin Friendster sudah basi, buat saya Friendster tidak pernah basi….