Archive for Books and Movies

Fifteen Films You’ve Seen that Always Stick with You

Kena tag di my notes facebook udah lama. Dikerjain juga udah lama, pas tadi sempet iseng liat lagi, jadi pengen copy paste di sini. Sebenernya saya jarang nonton filem, apalagi 6 taun belakangan ini (sejak nikah). Ekstra apa lagi 4 taun belakangan ini, sejak ada Raisha dan Dinda yang selalu harus ngikut ke mana pun kami pergi. Lebih jarang lagi film yang stick with me nih. Klo ntar ternyata ga sampe 15, berarti daku memanfaatkan kartu diskon yang dikasih sang penge-tag 🙂

1. Dead Poets Society
Seize the day, and make our lives extraordinary. Film yang sangat inspiring. Enak ditonton dan perlu. Kayaknya jaman2 SMA film ini wajib tonton deh.

2 La Vita e Bella
Lepas dari kontroversinya, film ini luar biasa menguras emosi dan indah. It’s about love, optimism and inner strength.

3. Sleepless in Seattle
Ini film diinget terus karena nontonnya jaman SMA, satu baris di BIP dibooked semua ama temen2 cewek + 1 cowok sekelas. Tiap kali nonton lagi, masih suka ikut larut dalam romantismenya, dan inget pengalaman pertama nonton bareng sambil tereak-tereak menyemangati tokoh utamanya sampe disebelin sama para penonton yang laen karena suasana romantis hilang berganti brutalis

4. A Few Good Men
Film ini salah satu film pertama dimana saya udah cukup umur untuk pergi ke bioskop dan nonton. Tom Cruisenya indah, Demi Moore-nya indah, penggambarannya juga indah. Dan yang paling indah dari film ini adalah moral of the story-nya
.

5. Perempuan Berkalung Sorban
Nonton film ini karena banyak diprotes, tapi komen2 dari Din Syamsuddin, dan lain-lain koq ya baik-baik aja. Film bagus tentang kehidupan perempuan dalam pesantren puritan. Sayangnya ga diimbangin dengan pesan bahwa hal seperti itu (menganggap perempuan harus tunduk dan patuh pada suami tanpa syarat bahkan bila suami sewenang-wenang) sebenernya tidak dibenarkan dalam Islam. Tapi secara keseluruhan film ini bagus banget. Pemainnya bermain sangat natural, cocok dengan kehidupan pesantren, gambarnya indah, semua kerasanya serba pas.

6. Kiamat Sudah Dekat
Disamping karena nontonnya bareng-bareng temen2 di kamar asramaku yang sempit, sama-sama sakau dengan segala sesuatu yang berbau Indonesia, sehingga sang film dirasa luar biasa keren; setelah nonton ulang ternyata emang ini film bagus ya. Lucu, ga menggurui, padahal penuh dengan pesan moral. Dua jempol buat Dedy Mizwar

7. Ada Apa dengan Cinta
Sekian lama ga ada film bagus di dunia perfilman Indonesia, Ada Apa dengan Cinta seperti angin segar yang berhembus di tengah gersangnya gurun pasir *lebaynya keluar*. Meski ceritanya standar aja, tapi keseluruhan film ini; pemain, penggambaran, skenario, sutradara, produser; layak untuk dipuji.

8. Along Came Polly
Along Came Polly will always stick with me and make me laugh every time I recall this title karena dua temanku tersayang harus minta maaf sama Universal Studio demi mendapatkan kembali sambungan internet di kamarnya gara-gara download film ini pake bittorrent demi teman-temannya yang pengen nonton

The Help

Lagi jalan di Kinokuniya, nemenin Raisha yang liat-liat buku. Jadi keingetan juga klo persediaan bacaan di rumah udah abis tanpa terasa. Perasaan punya stok oleh-oleh mudik cukup banyak, ternyata selesai juga.

Sebenernya beli sesuatu tanpa persiapan dan riset yang cukup bikin saya merasa kurang nyaman. Tapi karena sudah berada di toko buku dan lebih merasa ga enak lagi klo ga punya buku buat dibaca, akhirnya saya tinggalkan bagian anak-anak membiarkan Raisha dan Dinda bersama bapak mereka tersayang. Liat-liat buku di rak best seller; yang paling gampang. Pegang sana, baca sekilas yang itu, bingung sana, bimbang sini, akhirnya hati saya tertaut pada The Help. Ga ada referensi dan review yang pernah saya baca sebelumnya (karena emang jarang baca-baca tea), akhirnya saya pilih yang paling lebay blurb-nya, “If you read only one book, let this be IT!”. Halah, kayak apa sih isinya, perasaan baca buku tetralogi Pramoedya, Al Chemist-nya Coelho, One Hundred Years of Solitude dari Gabriel Garcia Marquez, atow bahkan dua dari Khaled Hosseini itu juga luar biasa keren, gimana yang lebih keren dari ini yaw?

Setelah baca bukunya…. boleh sih dibilang keren, meski teteup lah itu blurb lebay 🙂 Ga segitunya, sampe kalo satu buku ini yang paling perlu dibaca.
Cerita tentang hubungan hitam dan putih di Jackson, Missisipi yang penuh laku dan liku, penokohannya luar biasa kuat bikin terlarut dalam pergulatan batin tokoh-tokohnya, jalan ceritanya lancar padahal dibuat narasi mengalir dari si aku yang berbeda-beda, bikin buku ini juga jadi tambah unik. Yang bikin berat bahasanya euy… luar biasa. Tapi setelah beberapa bab, terbiasa juga dengan slank ala Afro-America.

Perahu Kertas

Perahu Kertas

Ngakunya sih bukan penggemar Dee. Apalagi setelah baca buku pertamanya yang menghebohkan itu, Supernova I: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Kayaknya maksa banget gitu masukin unsur2 sci-tech-nya. Jadinya malah ga enak dibaca. Abis tu baca Supernova II, meski lebih sederhana tapi malah ga bisa menikmati ceritanya. Kurang filosofis kali ya akunya. Tapi pas baca Supernova III malah demen. Ceritanya lucu, pilihan kata dan kalimatnya juga bikin ngakak, hiburan banget, ngakak sendirian. Abis itu malah terus baca Filosofi Kopi yang standar2 aja. Tp suka banget sama Rectoverso yang ciamik mengeksplor dunia yang sangat personal. Curhat yang indah ceritanya.
Meski ngakunya bukan penggemar Dee, semua bukunya dibeli dan dibaca. Terahir Perahu Kertas. Ini malah masih dapet cetakan pertama.
Sepintas mirip chick-lit, tapi ah engga ah. Lebih berisi.
I sticked to this book till 2 o’clock in the morning.
Ga bisa lepas, pengen tau terus gimana kelanjutan ceritanya Kugi dan Keenan. Dan dengan pengalamannya mengeksplor isi hati di Rectoverso, digabung dengan pilihan kata dan kalimat2 yang segar serta terasa semakin matang, Dee emang piawai bikin buku ternyata 🙂

The Winner Stands Alone

The Winner Stands Alone

Baca-baca beberapa review buku ini, koq banyak yang ga suka ya? Malah ada yang komentar kalo ini adalah “a spectacular failure“.
Padahal buat saya yang emang fans berat Coelho, buku ini luar biasa…
Dari sekian judul buku Paulo Coelho yang saya baca, ini buku beda banget. Kayaknya pertama kali deh dia mengusung tema thriller. Dengan gaya filosofi-nya, tema thriller yang seringnya biasa aja, cuman penasaran pengen tau cerita selanjutnya gimana dan berahir seperti apa, ga demikian kalo baca The Winner Stands Alone ini.
For me, it’s really a masterpiece!

Like the Flowing River

 

 

 

 

 

 

 

Love it so much!!
Really flows like a river.
Feels like reading a ‘nutritious’ blog…,
without having effort to connect to the internet

Don’t Judge a Book by Its Cover (or Title)

Pertama kenal seorang teman dari milis. Dia posting, nanya sesuatu, menurut saya simpel, tp koq kayaknya dia bingung amat. Bolak-balik curhat di milis singkat cerita membuat saya berpikir dia terbiasa dimanjakan dan hidup enak. Kopi darat pertama dengan penampilannya yang modis dan cantik membuat kesan pertama saya akan dia semakin menguat.
Perjalanan waktu membuat saya mulai banyak berinteraksi dan akhirnya cukup dekat dengannya. Kaget karena impresi saya tentang dia yang terlihat terbiasa dimanjakan dan hidup enak adalah 180 derajat berlawanan. Ternyata hidupnya keras, penuh cobaan, tak ada dukungan, penuh perjuangan. Tekad kuatnya lah yang membuat dia berhasil mengatasi semua beban berat hidupnya dan mencapai apa yang dia ada sekarang.
Lesson learnt: don’t judge the book by its cover…

Seperti juga buku yang saya baru selesein baca. Sebagai penggemar berat Paulo Coelho, buku ini udah dipromosiin seorang temen sekitar 2,5 taun yang lalu. Tapi karena ngeliat judulnya “The Witch of Portobello” yang mengandung unsur witch… jadi maless deh. Maklum, saya rada kurang demen ama yang berbau2 mistik. Dah gitu cover-nya juga sangat mendukung untuk ga menarik minat saya baca. Ditambah lagi waktu liat di Kinokuniya tuh buku-buku Paulo Coelho selalu rada tinggi harga-nya. Seraya heran dan menebak2 kenapa juga Oom Paulo ini nulis buku tentang witch yang kayaknya engga dia banget, saya akhirnya menunda menambah koleksi buku Paulo Coelho saya.
Baru sekitar setaun yang lalu di warehouse sale-nya MPH saya akhirnya beli buku ini. Harganya soalnya dipotong 40 %, jadi saya pikir ya dibeli aja. Dibaca enggak-nya mah gimana nanti, yang penting itu koleksi Oom Paulo dilengkapin huehehe…
Tertunda-tunda baca mengingat ada 2 bukunya Khaled Hosseini, trus ada beberapa novel tentang motherhood buat penambah semangat, ditambah ada Rectoverso-nya Dee, buku2nya Neng Iya yang lebih cepet selesai dibaca krn pake bahasa Indonesia, dan beberapa buku bagus lainnya, akhirnya baru sekitar 2-3 bulan yang lalu buku ini dilirik buat dibaca. Itu pun awalnya karena udah keabisan bacaan hehehe…

Ternyata ya gitu deeeh, judulnya mah Don’t Judge the Book by Its Cover (or even its title). Isinya mah ternyata Paulo Coelho bangettt dan seperti biasa; inspiring. Inti ceritanya tentang pencarian seorang perempuan untuk mengisi bagian kosong dalam hidupnya dan menjawab pertanyaan tentang siapa dirinya. Ga ada unsur mistik sama sekali deh (eh ada kali,… dikittt). Coelho sendiri bilang kalo The Witch of Portobello ini mengisahkan tentang orang2 yang berani mengambil langkah ke arah jalur spiritual alternatif; orang2 yang sering langsung dilabel dengan kata witch. Witch sendiri emang kata yang penuh prejudice bukan…? Ga heran kalo awalnya saya udah prejudice duluan ama buku ini;… ih engga banget deh, pasti mistis; yang mana daripada ternyata saya salah. Untung aja dibaca 😀

Dua yang Indah2

Sebagai pencinta buku, dulu2 saya melalap berbagai buku tanpa banyak mikir. Apalagi jaman masih SMP-SMA, blom banyak beban dan deadline. Novel tebel yang menarik bisa selesai dalam satu hari. Menginjak masa kuliah, membaca mulai jadi lambat selesai krn sering kepotong; dah jamnya kuliah, ada rapat himpunan, harus belajar buat ujian, ada pembicaraan dan lain2. Tapi kayaknya tetep aja deh ga butuh waktu lama untuk menyelesaikan satu buku yang memang sudah saya niatkan untuk dibaca.
Selesai kuliah, waktu membaca juga ga pernah jadi masalah buat saya. Kecuali belakangan ini. Hampir 6 bulan kayaknya saya perlukan untuk menyelesaikan 1 buku yang sebenernya teramat ingin saya ketahui akhir ceritanya.

Seperti posting di blog 3 bulan yang lalu (what?? udah 3 bulan yang lalu ya terahir posting), saya memang susah menemukan waktu buat diri sendiri. Dulu suka baca kalo malam menjelang tidur, sekarang biasanya blm niat tidur udah ketiduran. Pagi meski udah bangun sepagi mungkin, tetep selalu gedabrutan nyelesein urusan domestik sebelum ternak teri (anter anak anter suami).
Jadi… saya berusaha menggunakan waktu luang diantara bangun dan ketiduran di malam hari itu buat baca. Saat jemput Raisha, kepagian 5-10 menit sementara Dinda tidur di car seat-nya, waktu anak2 masih pada tidur sore ketika saya sudah selesai masak dan bebenah (yang sangat jarang terjadi), saat sabtu-minggu anak2 dan bapaknya tidur siang bareng…, pokoknya setiap detik yang berharga dipake buat baca buku ini. No wonder tu buku jadi lecek buanget. Bukan ga cinta buku, tapi pepatah lecek tanda dibaca really works here…
Akhirnya, setelah perjuangan panjang menyempatkan waktu buat baca, selesai juga tu buku indah “The Kite Runner” karya pertamanya Khaled Hosseini.

The Kite Runner mengisahkan tentang dua anak laki-laki; Amir dan Hasan. Amir adalah pribadi yang bimbang dan ragu, kurang ksatria, dan kurang memiliki dasar moral yang baik meski dia sebenarnya anak yang baik, keras terhadap dirinya sendiri dan kuat kemauan belajar. Sementara Hasan lahir dari keluarga miskin yang terpinggirkan, kuat dan setia kawan, polos, jujur, dan penuh integritas. Kedua orang yang tumbuh bersama di saat kecil dengan pribadi yang sangat berbeda ini mempengaruhi hubungan antara keduanya dan juga menentukan jalur hidup masing-masing orang pada saat mereka dewasa. Khaled dengan pandai mengeksplorasi segi psikologis keduanya dan menghasilkan cerita yang luar biasa menarik dan unik.
Khaled piawai memilih kata-kata yang indah dan merangkainya menjadi narasi-deskripsi yang memukau. Perang Afghanistan yang menjadi latar cerita juga dideskripsikan dengan sangat baik oleh pengarang yang dalam kesehariannya adalah seorang dokter ini.
Sebagai novel pertamanya, The Kite Runner menurut saya luar biasa. Seru, indah, memukau…
Feels like you’ve read the best novel ever?
Wait until you read… A Thousand Splendid Suns 🙂

A Thousand Splendid Suns adalah novel kedua Khaled Hosseini. Washington Post menulis, ‘In case you’re wondering whether A Thousand Splendid Suns is as good as The Kite Runner, here’s the answer: No. It’s better’.
And I found out it’s not only a lip service. A Thousand Splendid Suns juga menggunakan Afghanistan sebagai tempat cerita mengalir dan kondisi sosial-budayanya sebagai latar. Mengisahkan dua wanita dengan jalan hidup sangat berbeda yang kemudian dipertemukan oleh takdir dalam suatu keadaan.
Alur cerita yang lebih kompleks, kemampuan Khaled yang lagi-lagi mengeksplorasi sisi psikologis para tokohnya dengan didukung oleh kemampuannya memilih dan mengolah kata, serta ketajamannya membuat deskripsi membuat novel ini jadi sangat memikat.
(Psssttt, kali ini saya menyelesaikannya dalam beberapa hari saja; soalnya Raisha udah libur demikian juga pengajian2 dah pada mulai libur).

One Woman Search for Everything

Buat saya, masa-masa pasca patah hati saya sangat luar biasa dan tak terlukiskan dengan kata2. Banyak hal terjadi during that roller coaster time of my life. Lagu-lagu putus cinta yang sebelumnya terasa mehe2 bin melow2 berubah jadi soundtrack hidup saya. Dimulai dengan satu dering telepon pd suatu malam dengan tujuan mengakhiri hubungan kasih (hueks), yang berusaha saya tolak tapi gagal karena batere hape keburu abis. Please deh, 5 taun jadi orang terdekat, masa sih daku tidak layak dapet PHK (pemutusan hubungan kasih) dengan pesangon dan bonus heuheuheu, at least sambil acara makan malem pake minta maaf gitu (maunya). Tapi ya sudahlah…, ternyata memang saya menurut mantan saya hanya layak menerima pemutusan via hape. Abis tu, On Bended Knee-nya Boyz II Men jadi soundtrack hidupku sampe sebulan kemudian terjadilah peristiwa BSM yang membuat lagu tema berubah menjadi One Last Cry huhuhuhu… Ga pernah nyangka lagu paling menyedihkan yang pernah saya denger (I saw you holding hand standing close to someone else, still I see it all alone, wishing all my feeling was gone) ternyata diciptakan untukku. Abis itu hidup hancur lebur penuh air mata. Berbagai cara dicoba untuk bangkit tapi koq ya ga ada yang berhasil. Malam2 insomnia berlinang air mata sampai akhirnya mulai berkuranglah tetes air mataku setelah episode Cilacap. Untuk episode ini, Glenn Fredly khusus mencipta lagu Sedih Tak Berujung lengkap dengan klipnya yang secara suasana hati sama lah dengan kondisi saya waktu itu.

Abis episode itu, mulai lebih tenang. Mulai ada senyum-senyum kecil meski belum bisa sepenuhnya normal dan gembira ria lagi. Dalam masa2 ini, temen2 TK 95-ku yang luar biasa yang banyak membantu saya bangkit dari reruntuhan. Banyak main ama mereka, banyak jalan, banyak kumpul2 bikin saya sedikit lupa ama kesedihan saya. Sampai akhirnya di satu titik saya tau, satu2nya jalan untuk keluar dari semua ini adalah menjauh dari Jakarta (dan Bandung). AlhamduliLlah seperti ditunjukkin jalannya, saya dapet beasiswa dari DAAD buat ngambil master di QSE Uni Magdeburg. Waktu itu saya ga banyak berharap bisa kembali hidup normal dan ceria seperti dulu, pokoknya yang penting saya bisa merasa lebih tenang dan ga nangis terus.

Leipzig yang elegan, musim panas yang indah, all mexican in class yang luar biasa menyenangkan dan bersahabat, membuat judul buku yang dikasih Nta dan Aca sebagai hadiah farewell party saya waktu itu, You Can Feel Happy Again, bener2 terjadi. Ya Tuhan, saya bener2 bisa hepi lagi :-).
Bukan sekedar kembali bisa merasa gembira, tapi saat itu adalah masa di mana sampai setahun lebih satu-satunya perasaan saya hanyalah hepi, ga ada bt, ga ada sedih lagi. Full of life, free from fear, happy very2 much, bikin saya nekat ambil thesis dengan tema safety meski profesor pembimbingnya jelas2 dinyatakan profesor killer. Kuliah dengan senang karena pelajarannya memang sesuai minat saya, seseorang nun jauh di Brunei yang tiba2 masuk dalam kehidupan saya (ah kangen chating via YM-nya yang ga kenal waktu siang-malam-dini hari, lg libur, lg ujian – doh, please deh, ini bahan blm selesai dibaca koq malah chating), temen-temen kuliah yang luar biasa berwarna perangainya, temen-temen Indonesia yang sarat dengan aktivitas bermanfaat dan penuh kasih, dan mencapai puncaknya waktu defense thesis yang meski setengah mati grogi-nya karena syerem dan ngeri, pak profesor malah dengan bangganya ngasih nilai 1,0, angka sempurna di Jerman sono seraya berkata, “This is the best thesis since years…”
Eh, salah, itu bukan puncaknya… karena 3 minggu kemudian baru lah puncak roller coaster hidup saya itu: belahan jiwa saya berjanji setia menghabiskan hidup kami bersama.

hilarious

Saking menariknya pengalaman itu, saya sering pengen menuliskannya menjadi buku. Belum juga mulai nulis, malah mikir, jangan2 itu pengalaman menarik menurut saya aja sehingga membuat saya urung menuliskannya.
Makanya saya suka banget buku ini: Eat Pray Love. Membacanya sama seperti membaca diary Elizabeth Gilbert, sang penulis, dalam menjalani hari-harinya setelah perceraian yang sulit dan hubungan cinta yang tak berhasil.
Saya dapat membayangkan dia berusaha keluar dari perasaan sedih dan depresi pasca perpisahan dengan cara melakukan perjalanan ke tiga negara; Italia, India dan Indonesia di mana pada masing-masing negara dia menemukan kebahagiaan makan (eat), berdoa (pray), dan cinta (love) yang kemudian menjadi judul bukunya.

Dari segi cerita, seperti yang saya bayangkan kalo saya menuliskan kisah saya, tidak ada yang luar biasa. Benar-benar hanya menuangkan pengalamannya selama perjalanan. Tidak ada pergulatan emosi yang hebat, cerita yang menegangkan, ataupun jalan cerita yang teratur menuju klikmaks. Semuanya serba datar. Yang membuatnya menarik adalah cara penulisnya bercerita. Hilarious kalo bahasa Inggris-nya, full of live, sedikit sinis tapi luar biasa lucu.

Meskipun ceritanya datar-datar saja, kita rasanya selalu ingin segera tau, peristiwa demi peristiwa yang dialami penulis. Pada akhirnya ketika halaman terakhir dibaca, rasa kecewa melanda, “Yah.. udah selesai!” Tanpa klimaks, tapi bukan tak menarik karena justru kita ingin ceritanya masih berlanjut supaya masih ada yang bisa kita baca.
Selain membuat kita terhanyut turut merasakan “petualangannya”, buku ini juga sedikit memperkenalkan kita pada budaya Italia, India dan Bali sehingga bikin kita juga pengen pergi ke sana. Selain itu, buku ini juga membuat kita memotivasi kita untuk lebih menghayati hidup dan kehidupan. Menikmati kebahagiaan-kebahagiaan kecil lewat makan, merasakan nikmatnya punya sesuatu yang menjadi arah dan tujuan dalam hidup dan bisa menggapainya lewat doa-doa dan ibadah kita, juga mensyukuri cinta yang kita selalu miliki.
Saat menutup buku, kita akan sependapat bahwa pada dasarnya isi buku ini adalah One Woman Search for Everything dan everything itu tak lain dan tak bukan adalah kebahagiaan.

“Happiness is a consequence of personal effort. You fight for it, strive for it, insist upon it and sometimes even travel around the world looking for it.”

Kado ultah buat seorang sahabat;
ingatlah teman2 terdekatmu ini, semuanya berakhir bahagia koq 🙂

Recent Books I Read

Awalnya cuma penasaran, kenapa buku Laskar Pelangi bisa jadi national best seller. Bahkan waktu temen SMA-ku Andi maen ke sini, dia cerita kalo acara bedah buku ini fully booked by guru-guru di Indonesia jauh sebelum hari pembedahan. Nemu di rak bukunya Aca, jadi dakyu baca-baca deh. Awalnya bosenin, jadi baru 10 halaman dah berenti. Trus baca ulasannya Ime’ di multiply-nya (gw cari2 link-nya ga nemu Me’), ternyata beliau juga mengalami hal yang sama, bosen pas awal baca. Bedanya, akhirnya dia menyelesaikannya dan mengacungkan jempol buat novel ini.

Akhirnya saya pinjem deh buku Laskar Pelangi ke rumah. Perlu kesabaran buat melalui rasa bosen di awalnya sebelum akhirnya saya jatuh cinta pada ceritanya.
Waktu kemaren Ibu n Bapa dateng, sekalian minta dibawain Sang Pemimpi dan Edensor, buku kedua dan ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi.
Gaya penulisan untuk buku kedua dan ketiga ini masih mirip dengan yang pertama, Laskar Pelangi, tapi menurut saya sih jauh lebih smooth dalam menyisipkan istilah2 ilmiah. Ga kerasa maksain dan ikut mengalir dengan ceritanya. Jadi lebih enak dibaca, sementara isinya pun tak kalah menarik dengan yang pertama.
Soal isi ceritanya… silakan dibaca sendiri deh ya 🙂

Bertahun-tahun membaca berbagai buku, banyak yang bagus, yang menarik, yang asik, yang ga ada isinya juga lebih banyak. Bertahun2 juga meski banyak yang menurut saya bagus, buku favorit saya tak pernah bertambah dari Tetralogi Pramoedya, Alchemist-nya Paulo Coelho, dan One Hundred Years of Solitude-nya Gabriel Garcia Marquez, kali ini akhirnya saya memasukkan Tetralogi Laskar Pelangi (maksudnya baru 3 deng, yang ke-4 blom baca) ke deretan buku favorit saya.
Ada yang mau ngirimin Maryamah Karpov ke sini??? 🙂