Menjadi Tamu-Nya: Catatan Sebuah Perjalanan

Haji adalah salah satu momen ritual yang mengumpulkan kaum muslimin dari berbagai belahan dunia di rumahNya sehingga ibadah haji sering disebut sebagai salah satu ibadah sosial untuk menggalang persaudaraan dan solidaritas diantara sesama muslim. Tidak sepenuhnya salah, tetapi lebih dari itu, haji juga sebuah perjalanan ritual yang bersifat sangat individual. Haji menuntut kesiapan mental, fisik, dan ruhani dari masing-masing individu pelakunya. Ia memang ibadah yang dilakukan bersama-sama tetapi setiap orang akan menghayati perjalanannya sesuai dengan kapasitasnya.

Keinginan menunaikan rukun islam kelima telah lama ada, tetapi Allah selalu punya rencana yang lebih baik, mengalokasikan waktu terbaik bagi kami. Kami akhirnya mendapat kesempatan untuk berangkat dari Belanda. Sekitar taun 2010/2011 kami sebenarnya sudah ceki-ceki travel haji di Bandung, mencari yang itinerarynya menginap di Mina pada tanggal 8 Dzulhijjah (tarwiyah). Ada beberapa yang melaksanakan tarwiyah tetapi saat itu harus antri 2-3 tahun dan Mas Sai ga bisa mastiin 2 atau 3 taun lagi posisinya ada di mana. Di Belanda kami tidak bisa memilih. Bukan karena tidak ada pilihan travel haji, tetapi karena ustadz yang biasa mengisi Pengajian Isnin adalah seorang muthowif di salah satu travel haji. Kayanya ga lucu banget kalo kita ikut travel haji yang lain. Jadi dengan membaca basmallah kami mendaftar dan membayar uang muka sekitar bulan April dan melunasinya menjelang Idul Fitri.

Berbeda dengan prosedur pendaftaran haji di Indonesia yang cenderung berbelit, selain itu nama juga harus terdiri dari 3 kata; di sini prosesnya sangat sederhana. Daftar, bayar uang muka, kemudian menjelang Idul Fitri diminta untuk melunasi sambil menyerahkan paspor dan sertifikat vaksin meningitis. Selanjutnya tinggal tunggu visa. Bahkan nama suami yang hanya satu alias single name pun tidak perlu di-addendum di paspornya. Saking sederhananya, kita juga jadi ga dapet itinerary, ga tau akan menginap di mana nanti di Mekkah ataupun di Madinah, sekamar berapa orang, apalagi mengetahui siapa saja teman sekamar kami nantinya. Terima aja nanti hahaha… Ada manasik haji tapi sangat sederhana dan simpel.

Untuk menyiapkan bekal ilmu, akhirnya kami belajar sendiri. Berdua dengan keluarga Mas Enang, 3 kali Jumat sejak ba’da ashar sampe tengah malam. Liat video2 di youtube, atau mendengar rekaman manasik haji di KL sambil mencatat dan mengingat2. Kami juga membuat itinerary bayangan untuk menjadi panduan kami sendiri tentang apa saja yang akan kami kerjakan selama di Mekkah dan Madinah. Selain itu, Mas dan saya juga ikutan manasik haji sama temen-temen di KL bersama ust. Muntaha via Skype. Kebetulan sebenarnya taun 2011 kami juga sempat jadi penggembira, ikutan manasik haji bersama teman2 yang akan berangkat tahun tersebut dan juga yang sudah waiting list untuk tahun berikutnya. Ternyata teman-teman di KL yang berangkat tahun 2013 ini adalah mereka yang ikut manasik tahun 2011 (karena waktu itu sudah waiting list), jadi berasa mengulang memori indah manasik di The Merits. Seperti biasa, saat manasik ustadz Muntaha hanya menerangkan ritualnya saja sedangkan untuk penghayatan diserahkan kepada masing-masing. Tetapi beliau pun memberi bahan-bahan untuk persiapan ruh dan penghayatan ibadah seperti terjamah tafsir Q.S. Al Hajj, terjemahan buku “Jalan Menuju Haji Mabrur”, keduanya karya Dr. Ruqaia al Alwanil, kemudian juga gambaran tentang Mekkah dan Madinah, tulisan tentang napak tilas perjalanan haji Nabi saw., dan tak lupa beliau mengingatkan untuk membaca buku tentang Sejarah Makkah dan Sejarah Madinah.

Singkat cerita, pada hari yang ditentukan, berangkatlah kami setelah mandi untuk ihram dan sholat safar di rumah. Anak-anak dititipkan kepada nini dan mamangnya yang diimpor dari Bandung. Buat saya ini pertama kali berpisah dengan anak-anak lebih dari 24 jam, selama ini kalau pisah ga pernah lebih dari sehari-semalam. Tapi saya percaya Allah akan menjaga mereka, disamping sudah jelas kami menitipkan ke orang-orang yang akan menjaga anak-anak jauh lebih baik dari orang tuanya. Mamangnya yang tiap hari antar jemput sekolah dan belanja keperluan sehari-hari. Nini yang ngurus segala keperluan domestik dan anak-anak. Semoga Allah memberi mereka pahala yang berlipat ganda. Kami berangkat naik taksi dari rumah. Cuman modal sms; pesawat Turkish Airline nomor penerbangan sekian-sekian, jam 12.00, kumpul di vertrek (departure) 3 jam 9 pagi. Dan kami berada di sana jam 8 lewat lewat dikit karena supir taksi pesenan datang kecepetan sambil maksa kami untuk cepat berangkat (karena kayanya dia ditunggu customer lain). 

Setelah ketemu dengan muthowif kami, kami mendapatkan tiket pesawat dan segera check-in. Baru setelah itu kami bertemu dengan kelompok besar travel haji kami yaitu travel haji milik turki, Milli Gorus. Dimulailah perjalanan ini. Kami memasuki pesawat setelah berdoa bersama. Di pintu kami mendapat paket dari Turkish Airline berupa tas tangan kecil berisi sabun tak berwangi, sajadah lipat, tas kecil tempat sepatu, dan dompet kecil untuk menyimpan uang atau dokumen, alhamdulillah, padahal semuanya sudah kami peroleh juga dari Milli Gorus, jadi punya pengganti kalau kotor :). Di dalam pesawat ada majalah travel turkish airline yang untuk terbitan kali ini khusus membahas haji. Majalah yang sangat sangat bagus (saking bagusnya jadi sangatnya dua kali) berisi tentang sejarah tempat-tempat yang akan dikunjungi di Mekkah dan Madinah, tips kesehatan bagi jamaah haji, dan informasi umum lainnya yang berkaitan dengan haji. Membacanya sangat membantu meningkatkan penghayatan perjalanan haji kita.

Sekitar 3 jam kemudian kami tiba di Turki untuk transit selama 2 jam. Waktu yang cukup untuk kami sholat sunnah dan bagi para pria mengganti pakaian dengan ihrom. Ketika kami siap untuk naik pesawat lagi, ada pemberitahuan bahwa pesawat akan terlambat selama 5 jam. Jadi para jamaah mulai menduduki tempat duduk di area food court bandara, masih dengan pakaian ihrom. Mengundang tanya dari turis asing yang ada di bandara. Satu diantaranya dari Swedia datang ke meja kami dan bertanya hendak ke mana kami dan mengapa berpakaian seperti itu. Sebagai orang Indonesia, kita selalu agak segan bercerita panjang lebar tentang ritual agama kepada orang asing secara terperinci. Kebetulan seorang diantara kami adalah orang Belanda (suaminya orang Indonesia), akhirnya dia-lah yang melengkapi cerita kami. Detil terperinci bahkan dimulai dari cerita perjalanan Nabi Ibrahim as hingga turis Swedia itu merasa puas.

Akhirnya 5 jam berlalu, dan kami mulai memasuki pesawat. Anyway busway, semua pengumuman dibuat dalam bahasa Turki dan kalau ada yang nanya baru diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda. Barulah saya sadar di situ ternyata bahasa Belanda saya lumayan juga (ya iyalaaaah kalo dibanding bahasa Turki). Sampai di atas Qornul Manazil yang merupakan tempat miqat bagi jamaah yang datang dari arah Kuwait, Eropa, Asia Tenggara, pemimpin rombongan mengingatkan untuk melafalkan niat (kali ya, soalnya dia ngomong bahasa Turki terus melafalkan niat dalam bahasa Arab). Setelah itu mulailah jamaah bertalbiah hingga sampai di Jeddah.

Hotel tempat menginap di Asysyisyiah

Setelah melewati pos-pos pemeriksaan dibandara King Abdul Azis Jeddah, akhirnya kami memasuki bis yang membawa kami ke hotel setelah sebelumnya mengumpulkan paspor kami kepada pihak travel agar kami tak repot menjaga dokumen penting tersebut. Kami hanya dibekali gelang merah yang menyatakan nomor maktab kami di Mina dan Arafah serta alamat hotel. Ternyata hotel kami dekat dengan Mina, hanya 2 km dari jamarot. Tiga tower hotel di area tersebut diisi oleh jamaah haji dari travel Milli Gorus seluruh Eropa. Petugas hotel pun dari Milli Gorus sehingga lagi-lagi semua harus dalam bahasa turki. Minta kunci dari resepsionis aja harus nulisin angkanya karena ga bisa bahasa lain selain Turki. Tapi petugas restoran dan kebersihan adalah tki dan tkw Indonesia. Jadi untuk masalah minta bersih-bersih dan nanya menu makanan kita ga kesusahan. Malah orang-orang Turki itu yang susah nanya dan nyuruh bersihin kamar karena para tki-tkw ini hanya bisa bahasa Indonesia dan bahasa Arab.

Setelah istirahat, makan, dan mandi menyegarkan diri, kami berangkat menuju Masjid Al Haram menggunakan bis yang selalu siap mengantar jamaah yang ingin pergi ke Haram d depan hotel. Waktu tunggu di dalam bis paling 10 – 15 menit saja dan selalu ada minimal 2 bis milik travel yang siap menanti di depan hotel dan di terminal dekat masjid untuk mengangkut jamaah dari Milli Gorus. Hanya harus dipastikan mengenakan name tag yang diberikan travel untuk dapat naik ke dalam bis tersebut. Hari itu juga dilakukan tawaf qudum dan umroh (lupa bilang kalau kami Haji Tamattu, jadi melakukan umroh dulu baru haji dan membayar dam hadyu). Dam hadyu sendiri bukan denda pelanggaran tetapi bagian dari haji tamattu. Dinamakan dam karena mengalirkan darah (dam berasal dari kata darah) alias menyembelih hewan.

Setelah selesai umroh, kami tinggal menunggu bermulanya ritual haji. Kami datang pada tanggal 1 Dzulhijjah sehingga ada waktu beberapa hari sebelum ritual haji dimulai. Yang kami lakukan selama menunggu adalah sholat 5 waktu di Masjidil Harom, mengisi waktu dengan banyak membaca Al Quran, dan jika memungkinkan melakukan tawaf. Daerah sekitar masjid masih dipenuhi dengan crane-crane yang sedang mengerjakan konstruksi, tidak heran kalau quota haji terpaksa harus dikurangi karena memang tempat di daerah Masjidil Harom berkurang. Beberapa hal yang baru tentang Masjidil Harom adalah sekarang lebih tertib, jadi jangan harap bisa berwudhu di tempat air zamzam, berwudhu harus keluar masjid dulu. Selain itu askar sedapat mungkin memisahkan shaf ikhwan dan akhwat kecuali di daerah atas (yang tak beratap) dan di sekitar tempat thawaf masih sering bercampur. Jika memasuki Masjidil Harom 30 menit sebelum adzan, maka ikhwan dan akhwat harus memasuki masjid melalui pintu masing2 (ladies gate dan gentleman gate).

Karena hotel yang jauh dari Haram, biasanya kami berangkat sebelum shubuh dan pulang dulu setelah dhuha. Kemudian kembali lagi ke masjid sebelum zhuhur dan baru kembali ke hotel setelah isya. Hanya saja, pemerintah Saudi tiba-tiba mengeluarkan peraturan agar bis besar tidak boleh memasuki lingkungan Masjidil Haram sejak tanggal 5 Dzulhijjah. Travel telah berusaha menggantinya dengan minibus yang berjalan lancar hanya pada tanggal 5. Mulai tanggal 6 Dzulhijjah, operasional minibus ini mulai tidak amanah. Mereka mencabut atribut travel dari minibus mereka dan mengajak kami naik ke minibus tersebut dengan menarik bayaran per orang seperti taksi. Taksi pun dari jam ke jam semakin mahal, dari yang tadinya hanya 20 real dari masjid ke hotel meningkat perlahan setiap jamnya dari 50, 100, sampai 200 real terutama jika diantara penumpang ada perempuan. Suami dan saya pernah diminta 500 real baru boleh turun padahal deal awal 200 real saja. Akhirnya pada tanggal 7, para wanita mengalah tidak lagi berangkat ke Masjidil Haram dan hanya mengikuti sholat jamaah yang diadakan di mushola hotel yang luas.

Sebelum berangkat haji, kami telah mengetahui rencana perjalanan haji kami tidak akan melakukan tarwiyah melainkan langsung ke Arofah, dan memilih melaksanakan nafar awal. Sejak awal pula kami berazam untuk pergi tarwiyah jika memungkinkan (dan diizinkan oleh muthowif) meskipun kami harus berjalan untuk itu. Mendekat ke pelaksanaan ritual, kami beranikan bertanya kepada muthowif yang orang Indonesia mengenai kemungkinan kami untuk bertanazul (memisahkan diri dari rombongan) agar dapat menginap di Mina pada hari tarwiyah tanggal 8 Dzulhijjah (dan melakukan nafar tsani). Muthowif kami tidak berani melarang tetapi izin tidak di tangannya. Kami disuruh langsung bertanya kepada pimpinan rombongan yang orang Turki. Saat itu yang terngiang di telinga saya adalah ceramah ust Muzakkir pada pelepasan haji 2011, bahwasanya bila kita memiliki keinginan yang kuat, biasanya Allah memberi jalan. Kami tidak juga dapat berjumpa dengan pimpinan rombongan sampai tgl 7 Dzulhijjah di mana memang ada pertemuan untuk membahas tentang Hari Arafah.

Kami mengikuti pertemuan tersebut meski tidak mengerti setitik pun apa yang dibicarakan hahaha. Tapi di awal mereka sudah bilang, seusai penjelasan ini akan diikuti dengan penjelasan bahasa Belanda bagi yang memerlukan. Dengan sabar kami tunggu untuk mendengar penjelasan bahasa Belanda. Ketika dijelaskan dalam bhs Belanda, muthowif kami sesekali menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bila kami tidak mengerti. Dijelaskan bahwa rombongan travel akan berangkat langsung ke Arofah pada tanggal 8 Dzulhijjah, namun jamnya tidak dapat dipastikan. Hanya saja setiap orang harus sudah siap pada pukul 10 pagi. Kemudian dijelaskan juga tentang mabit di mana dan rencana untuk nafar awal.

Tenda di Mina
Tenda di Mina

Mas kemudian bertanya tentang kemungkinan menginap di Mina sebelum ke Arofah dan nafar tsani. Ternyata masya Allah, untuk menginap di hari tarwiyah ini malah bagi yang muda-muda sangat dianjurkan untuk melaksanakannya. Hanya saja tidak naik bis, tapi berjalan kaki. Untuk kenyamanan, maka yang menginap dulu di Mina sebelum hari Arofah pergi ba’da shubuh. Alhamdulillaah, kami pergi bersama  barisan muda Turki (ada juga yang sudah tua terutama dari Maroko  yang mengikuti madzhab Hambali dimana tarwiyah diwajibkan bagi mereka). Dari hotel ke jamarot hanya 2 km, tetapi tenda kami di Mina ada di ujung Mina di bawah tulisan Mina Ends Here atau di kawasan Mina extension (Mina Jadiid) sehingga perlu berjalan sekitar 5 km lagi dari jamarot. Total perjalanan hingga sampai di tenda dengan kecepatan jalan yang biasa saja sekitar 1,5 jam.

Dari segala arah menuju Arofah
Dari segala arah menuju Arofah

Setelah mabit di Mina, ba’da shubuh kami melanjutkan perjalanan ke Arofah untuk wuquf dengan berjalan kaki. Pengalaman berjalan kaki menuju Arofah adalah salah satu yang paling mengesankan selama menunaikan ibadah haji. Perjalanan panjang di bawah terik matahari yang perlahan tapi pasti mulai menyengat dengan kecepatan tinggi (orang-orang Turki itu luar biasa kuatnya, kita minum sebentar saja sudah terengah-engah mengejar rombongan) cukup menguras tenaga. Tapi bukan itu yang terpikirkan saat itu melainkan keadaan saat itu. Menyaksikan manusia-manusia bergerombol dari berbagai arah kebanyakan dalam pakaian putih ihrom atau hitam bagi wanita, berjalan menuju satu tujuan, padang Arofah… Saat itu panas menyengat, matahari masih jauh dari jangkauan, payung masih bisa kita kenakan; dapat dibayangkan di yaumil Mahsyar nanti saat matahari sejengkal saja dari kepala kita dan manusia dari seluruh zaman berkumpul di padang Mahsyar :(.

Tenda wukuf
Tenda untuk wukuf di Arofah

Perjalanan ke Arofah sejauh 16 km ditempuh dalam waktu 4,5 jam. Kami tiba di tenda untuk wuquf di Arofah sebelum Zhuhur. Zhuhur kami lakukan berjamaah sekaligus Ashar. Selanjutnya jamaah memanfaatkan waktu paling mustajab dalam setahun ini untuk berdoa, membaca Al Quran, berdzikir dan juga mendengar khutbah Arofah (dalam bahasa Turki untuk tenda kami). Seusai khutbah Arofah sekitar ba’da Ashar, teman-teman Turki sepertinya menganggap sudah selesai karena mereka langsung bersalam-salaman. Kami sendiri orang-orang Indonesia melanjutkan berdzikir dan berdoa hingga Maghrib tiba. Ba’da Maghrib kami bersiap menunggu dijemput bis untuk mabit di Muzdalifah. Alhamdulillah tidak lama menunggu dan tidak ada macet, sehingga sebelum jam 9 kami telah berada di Muzdalifah, menunaikan sholat Isya dan Maghrib berjamaah kemudian istirahat.

Ba’da shubuh kami semua berjalan kembali ke tenda di Mina. Di sana kami menunggu hingga waktu Dhuha kemudian berangkat ke Jamarot untuk melontar jumroh Aqobah. Pemerintah Saudi tampaknya sudah semakin baik dalam menangani jamaahnya. Jamarot sendiri sekarang dibuat 4 tingkat. Perjalanan menuju jamarot dibuat panjang dengan jalan yang besar dan luas sehingga jalan dipenuhi jamaah tetapi pada saat melontar yang hanya sebentar tidak perlu sampai berdesakan, alhamdulillah. Bahkan ketika kami melontar di waktu yang paling afdhol pun padatnya masih boleh tahan lah kalau orang Malaysia bilang.

Seusai melontar jumroh Aqobah kami kembali ke hotel untuk tahalul awal ditandai dengan mencukur rambut karena kami telah memercayakan penyembelihan hadyu kepada yang bertanggung jawab. Kami kemudian melakukan aktivitas normal di hotel. Menjelang Maghrib kami semua kembali ke jamarot di Mina untuk mabit. Karena hotel yang dekat dengan jamarot sementara tenda Mina jauh, mayoritas jamaah memang tidak menginap di tenda tetapi hanya datang menjelang Maghrib dan duduk berdiam di sekitar jamarot sampai pukul 12 malam untuk kemudian kembali ke hotel meski harus sabar-sabar diusir-usir terus sama askar yang menertibkan kawasan tersebut. Namun demikian ada juga trotoar jalan yang diperuntukkan bagi orang-orang yang mabit sehingga tidak mengalami pengusiran. Mas dan saya tetap bertahan di sekitar jamarot hingga subuh, ba’da subuh barulah kami kembali ke hotel.

Selanjutnya seperti biasa kami kembali ke jamarot untuk melontar 3 jumroh ba’da Zhuhur (waktu paling afdhol untuk melontar). Mas mulai sering mimisan hari ini, diduga karena saat perjalanan ke Arofah kurang minum dan tidak melindungi kepala sama sekali. Akhirnya beliau terpaksa menunda melontar jumroh sampai ba’da ashar yang dilanjutkan dengan kembali mabit di dekat jamarot. Saya menyaksikan saat ba’da ashar melontar jumroh memang tidak sepadat ba’da zhuhur tetapi bahkan ba’da zhuhur pun kepadatan masih dapat ditoleransi (mungkin karena pengurangan quota juga ya sehingga Mina menjadi tidak begitu padat).

Saat mabit di pinggir-pinggir jalan di area jamarot ini kami banyak berjumpa dengan orang-orang Indonesia yang memisahkan diri dari rombongannya (eh, ada yang 1 kloter tanazul itu termasuk memisahkan diri ga sih?). Ketika kami bertanya kenapa mereka tidak menginap di Mina, ternyata alasannya karena mereka kurang sreg dengan Mina yang daerah perluasan atau Mina jadid. Memang tenda Mina untuk jamaah haji Indonesia, Turki, Eropa, Amerika dan Australia berada di kawasan perluasan Mina. Maksudnya, di zaman Rasulullah, daerah tersebut bukan termasuk Mina. Untuk menampung jamaah haji yang dari tahun ke tahun semakin banyak, pemerintah Saudi meluaskan daerah tenda Mina hingga ke dekat Muzdalifah (tentunya sudah dengan pertimbangan ulama-ulama juga).

Subuh setelah menyelesaikan mabit, mas dan saya melakukan tawaf ifadhoh berdua saja karena kami akan melakukan nafar tsani sementara rombongan melakukan nafar awal dan akan melakukan tawaf ifadhoh pada saat kami kembali mabit untuk nafar tsani.

Masjid Al Khoyf
Masjid Al Khoyf

Malam ketika kami mabit untuk nafar tsani, Mina sudah mulai lengang. Bahkan kami berkesempatan untuk sholat Maghrib, sholat Isya, dan menginap di Masjid Al Khoyf dekat jamarot yang biasanya penuh luar biasa hingga sholat pun terhimpit-himpit. Malam nafar tsani ini masjid tetap penuh tetapi masih bisa menampung jamaah. Dini hari menjelang subuh, mas mulai mimisan tiada henti sampai 1,5 jam. Alhamdulillah dekat dengan Masjid Al Khoyf ini ada Outpatient Clinic. Kami segera pergi ke sana. Dengan bahasa isyarat dan dipingpong sana sini karena kesulitan komunikasi, akhirnya sampai juga di dokter THT. Hidung mas disumbat dengan perban yang telah dilumuri obat dan baru boleh dibuka setelah 24 jam. Dikasih obat juga berupa parasetamol dan obat tetes jika perban penyumbat sudah dibuka untuk melembutkan pembuluh darah di daerah hidung yang pecah terus. Karena kondisi Mas yang terus-terusan mimisan, kami memutuskan untuk melontar jumroh terahir pada waktu jawaz (waktu yang diizinkan) yaitu langsung setelah sholat subuh. Selesai sholat kami kembali ke hotel, maka selesailah sudah rangkaian ritual haji.

Hari-hari selanjutnya kami tinggal menunggu waktu ke Madinah dan kembali kepada aktivitas sholat 5 waktu di Masjidil Haram serta mengisi waktu dengan banyak membaca Quran dan berdoa. Selain itu juga kami berkesempatan mengunjungi Jabal Nur, Jabal Rahmah, Gua Tsur (dari jauh), dan Hudaibiyah. Seharusnya kami berangkat ke Madinah pada tanggal 21 Oktober, tapi apa mau dikata ternyata ada masalah dengan hotel di Madinah sehingga keberangkatan ditunda paling lambat tgl 26 Oktober. Namun demikian, pada tgl 25 pukul 14.30 usai sholat Jumat kami diberi tahu bahwa malam pukul 8 kami akan berangkat ke Madinah. Pukul 15.00 kami telah siap berangkat ke Masjidil Harom untuk tawaf wadha. Luar biasa perubahan waktu yang sedemikian cepat pun teman-teman Turki kami menyikapinya dengan cepat. Kami orang Indonesia ini yang agak keteteran karena belum beres ngepak-ngepak hahaha… Alhamdulillah tapi pada pukul 19.00 semua koper telah siap diangkut oleh truk dan pukul 20.00 kami berangkat menuju Madinah.

Tiba di Madinah dini hari menjelang shubuh. Di Madinah, hotel dekat sekali dengan Masjid Nabawi, hanya sekitar 200 m sehingga tidak ada kesulitan untuk pergi ke sana. Aktivitas di Madinah selain sholat 5 waktu di Masjid Nabawi, kami juga mengunjungi tempat-tempat yang sarat sejarah di sana seperti Masjid Qiblatayn, Masjid Quba, Bukit Uhud, dan masjid-masjid sekitar Masjid Nabawi. Tidak lupa juga belanja untuk oleh-oleh :).

Masjid Nabawi
Masjid Nabawi ba’da Subuh

Bagi kaum perempuan, kunjungan ke Raudhoh dibatasi hanya ba’da Shubuh dan ba’da Isya (informasi lain saya baca-baca di internet katanya sekarang ba’da Ashar pun dibuka, tetapi saya tidak mencoba). Untuk mengunjungi raudhoh, cukup pergi ke pintu 25 setelah sholat Isya atau setelah sholat Shubuh. Nanti di sana akan ada petugas (askar) perempuan yang mengatur agar kita duduk per negara dan memasuki raudhah berkelompok sesuai negaranya. Saya pertama kali berangkat ke sana bersama rombongan, jadi bersama teman-teman Turki. Di pintu sebenarnya dicegat askar untuk menuju kelompok Melayu karena wajah kami yang melayu sekali. Tapi kami menunjukkan name tag kami yang dari travel turki sehingga kami dipersilakan mengikut rombongan travel kami duduk di wilayah turki. Masih dicegat lagi sebelum duduk oleh pemimpin turki karena kami bukan orang turki, tapi lagi2 kami tunjukkan name tag dan beliau meminta maaf (dalam bahasa Turki) serta menyilakan duduk. Kami menunggu giliran untuk masuk ke raudhah sambil mendengar ceramah (dalam bahasa Turki). Orang-orang Turki ini tertib sekali menunggu dan mengikuti arahan pemimpinnya sehingga sampai di Raudhah. Di lain hari saya pergi sendiri, dan karena wajah Melayu saya tentunya askar menyuruh saya masuk ke kelompok Melayu. Saya duduk bersama kelompok Melayu dan merasakan bedanya hehehe… Tidak ada petugas haji Indonesia yang mengatur (di bagian depan ya, kalau sudah dekat sekali ke raudhoh sih ada), ibu-ibu juga susah sekali diatur, liat kelompok lain dipersilakan untuk masuk, mereka ingin ikut, sampai-sampai askar kewalahan menahan :). Saat di raudhoh pun berdesakan sehingga sulit untuk dapat menunaikan sholat. Mungkin ini salah satu PR untuk petugas haji Indonesia.

Tak terasa waktu kami di Madinah telah habis. Telah sampai waktunya kembali ke rumah. Kami berangkat dari bandara Madinah, kembali ke Belanda yang dingin menggigit setelah bertahan dalam suhu di atas 40 derajat Celcius. Alhamdulillah disambut hangat di Schipol, bahkan bandara Schipol pun menyiapkan spanduk menyambut jamaah haji dan menyediakan mint tea serta baklava untuk para jamaah yang baru datang dan para penjemput. Semoga pembinaan bulan Dzulhijjah tersebut membekas ke dalam kehidupan kami selanjutnya dan semoga Allah menganugerahi kami haji yang mabrur. 

Untuk teman-teman yang hendak berangkat haji, beberapa hal yang kami rasa penting untuk diketahui sebagai bekal adalah persiapan fisik, persiapan mental dan ruh, dan persiapan ilmu. Ibadah haji adalah ibadah fisik yang memerlukan kekuatan fisik dan kesehatan badan untuk bisa dinikmati sepenuh jiwa. Olahraga yang teratur tampaknya akan sangat membantu. Saya sendiri bukan orang yang rajin berolahraga, tapi kebetulan saya hidup di negeri Belanda di mana kaki adalah alat berjalan yang utama selain sepeda. Setiap hari saya harus berjalan untuk antar jemput sekolah saja 6 km (jalan kaki atau naik sepeda), belum kalau harus pergi sana sini yang tentunya kalau tidak hujan saya mengendarai sepeda (hujan aja masih sepedahan kalau waktu mepet tinimbang harus nunggu bis yang melambatkan perjalanan).

Dan walaupun haji adalah ibadah fisik yang sudah sah walaupun pelakuya tidak hafal doa apa pun karena hanya tinggal mengikuti saja pemimpin rombongan, sungguh penghayatan itu akan beda saat kita tau doa yang cocok untuk dilafalkan. Paling tidak, hafalkan doa-doa penting (sambil mengetahui artinya) seperti doa memasuki makkah, doa masuk dan keluar masjid, doa melihat ka’bah, doa memulai tawaf, doa saat sai menuju bukit safa dan marwa dan doa ketika sampai di safa atau marwa, doa minum air zamzam, dan doa-doa penting lainnya. Selain itu juga siapkan doa-doa yang ingin dipanjatkan terutama saat paling mustajab dalam setahun yaitu hari Arafah karena panjangnya waktu paling mustajab tersebut jangan sampai ada doa yang terlewat.

Selain itu, untuk merasakan ruh ibadah, persiapkan juga pengetahuan tentang sejarah Mekkah Madinah, membaca tafsir surat Al Hajj, membaca-baca tentang filosofi haji. Hal ini membantu kita menghayati perjalanan ritual kita, menikmati pengalaman spiritual, dan memotivasi kita untuk melakukan yang terbaik selama menunaikan ibadah haji.

Terakhir, seperti halnya hidup yang penuh kejutan, meski kita sudah siapkan mental, fisik, dan juga jadwal, selalu ada saja yang tak terduga yang terjadi. Demikian juga dengan ibadah haji, selalu ada hal tak disangka yang datang dan menguji kesabaran kita. Selama kita ingat bahwa apa pun yang terjadi adalah ladang pahala bagi kita asalkan kita menyikapinya dengan benar, kita insya Allah akan lapang dada dan legawa menjalaninya :).

 

Den Haag di Mata Kami

Kurikulum yang diterapkan di sekolah Raisha-Dinda adalah International Primary Curriculum (IPC). Ga kaya IB atau Cambridge, belum banyak yang tau tentang kurikulum ini. IPC ini kurikulum yang komprehensif, tematik dan kreatif ditujukan untuk anak usia 4 – 11 tahun. Proses pembelajarannya jelas dengan tujuan pembelajaran yang spesifik disesuaikan dengan kebutuhan internasional sekaligus personal.

Binnenhof
Binnenhof di daerah Centrum (city center)

Sebenernya bukan mau cerita kurikulum karena bukan ahlinya. Tapi berkaitan dengan kurikulum tersebut, minggu lalu sekolah sempat menjadikan The Hague sebagai topik IPC.  Dan ternyata yang jadi belajar bukan cuman anak-anak, tapi juga ibunya :-). Baru sadar, selama setaun di Den Haag, kita pergi ke Centrum terutamanya cuman buat beli tahu-tempe dan salam sereh. Padahal waktu saya kebagian jaga kelas Raisha ekskursi… weits banyak banget bangunan cantik dan bersejarah di Centrum. Kalo ga suka sejarah, paling tidak itu bangunan cantik buat difoto.

Selama setaun di sini, baru deh terpikir untuk lebih memerhatikan kota tempat kami tinggal. Baru nyadar kalau Den Haag itu kota yang “traditionally Dutch”; tapi berbeda dengan Amsterdam, Den Haag lebih kalem dan lebih hijau. Taman dan hutan kota ada di mana-mana, buat pecinta jalan kaki semacam saya sungguh menyenangkan ada di kota seperti ini. Sepanjang jalan menuju sekolah Raisha, ada banyak taman dan hutan dengan kanal-kanal yang bikin kota tambah cantik, padahal dari rumah ke sekolah cuma 1,5 km aja. Trus  Den Haag itu masih dikategorikan city living, ga ndeso-ndeso amat (which is saya ternyata anak kota yang lebih suka ramai daripada sepi), tapi ga penuh sesak dan bikin pusing kaya Amsterdam.

Selain taman dan hutan kota yang sangat menyenangkan buat tempat main anak-anak, Den Haag juga punya pantai Scheveningen yang terkenal itu di mana anak-anak bisa bersukaria main pasir dan main air (kalo lagi ga dingin). Den Haag sangat menyenangkan buat “outdoor children” semacam anak-anak kami.

Dengan mengetepikan cuacanya yang luarbiasa bikin mabuk kepayang; kadang bahagia liat matahari yang terang lebih sering sendu dan basah dengan mendung dan hujan; Den Haag bener-bener kota yang sederhana dan menyenangkan untuk tinggal. Untuk muslim, masjid-masjid banyak berdiri dan terlihat dengan jelas. Komunitas Indonesia pun ada mesjid sendiri yang lebih memudahkan untuk belajar agama karena menggunakan bahasa Indonesia.

Selain itu buat orang Indonesia seperti kami, makanan di Den Haag juga ga jadi masalah. Ada banyak warung/restoran Indonesia, meski untuk muslim seperti kami tentunya tetap harus periksa kehalalannya. Toko Asia pun menyediakan lengkap keperluan bumbu dapur sampai yang paling aneh semacam kapulaga dan keluwak sekalipun. Anyway busway, jadi teringat ya… Di Indonesia, kita mengenal Belanda hanya sebagai penjajah yang menguasai negara kita lebih dari 350 tahun, tidak terasa lagi sisa-sisa ikatan kita dengan Belanda kecuali dari beberapa kosa katanya yang diserap bahasa Indonesia seperti kantor dan apotek. Tapi ketika sampai di Belanda, terasa banget loh ikatan antara bangsa Indonesia dengan Belanda. Restoran-restoran Belanda banyak menyediakan menu Indonesia dengan nama yang tidak berubah; Babi Ketjap, Nasi Goreng, Bakmie Goreng, Sate Ajam, dan sebagainya. Di supermarket-supermarket biasa, tahu dan tempe dengan mudah ditemukan. Demikian pula bumbu instan untuk bakmi goreng, sate, ayam panggang, bahkan sambal djeroek. Tak lupa jajanan khas Indonesia semacam keroepoek, katjang pedis, katjang bawang. Semuanya produk asli Belanda. Di Den Haag setiap tahun KBRI menggelar Pasar Malam Indonesia, sebuah festival tentang Indonesia yang berlangsung selama 5 hari, isinya bazaar makanan, pameran dan penjualan art & craft Indonesia, dan pertunjukkan seni dan budaya Indonesia. Pengunjungnya ternyata banyak sekali opa dan oma orang Belanda yang bisa tahan duduk berjam-jam nonton pertunjukan. Selain KBRI, pihak swasta di sini juga menggelar Tongtong Fair yang serupa dengan Pasar Malam Indonesia tetapi lebih besar dan lebih lama penyelenggaraannya, dan meskipun tiket masuknya mahal (16 euro per orang) tetap saja penuh sesak.

Clingendael
Taman Clingendael kala musim gugur

Buat para turis yang ingin mengunjungi Den Haag…. Nomer 1 yang harus dilakukan adalah: sewa sepeda. Mulai dari Centrum dengan Binnenhof tempat Konferensi Meja Bundar, istana tempat raja bekerja, dan istana perdamaian (Peace Palace).Sempatkan juga ke Madurodam, kalau ada anak-anak kecil pasti senang sekali mereka di sini melihat miniatur Belanda. Pencinta natur bisa pergi ke Pantai Scheveningen atau bersepeda di hutan Haagsche Bos sambil ngintip istana kediaman sang Ratu (eh sekarang dah resign deng Ratu Beatrix), jangan lupa kunjungi juga taman-taman cantik Clingendael dan Rosemary. Selamat menikmati Den Haag 😉