(masih) Tentang Friendster March 31, 2006
Posted by Vidya in : Thought and Imagination , 5commentsSeorang teman terbaik saya akan menikah dalam minggu2 di depan ini. Teman seperjuangan. Temen senasib di masa2 watawww edan-eling lieur-na!! Teman berbagi selama masa-masa berat penuh darah dan air mata itu. Waktu itu dia akhirnya mabur ke Jerman, sekalian sekolah sekalian menata ulang hidup. Dan saya tergoda untuk melakukan hal yang sama, mencoba menata ulang hidup saya yang saat itu berantakan banget dengan mencari lingkungan baru. Meski tak satu kota, komunikasi kami terjalin sangat baik sejak di Jerman (secara di sana YM! bisa nyala setiap saat dengan kecepatan tinggi tanpa perlu mengkhawatirkan argo bytes nya).
Saya hanya sekali berjumpa dengannya di sana. Salam 2003 di Berlin (ato Hannover yah… hmm, kayanya Hannover). Waktu itu dia sudah memperkenalkan cowok baru-nya, namun suasana hatinya belum terlihat membaik. Belakangan ternyata dia kembali harus berhadapan dengan kepahitan dulu sebelum bertemu dengan calon suaminya yang sekarang. Sempat dia pulang ke Indonesia untuk magang, dan lagi2 kami bertemu hanya sekali. Dalam waktu yang singkat di pernikahan salah seorang sahabat kami, pernikahan pertama yang dihadiri Raisha yang saat itu baru 1 bulan. Kali ini wajahnya sudah cerah-ceria, sama seperti saya saat itu.
Salah seorang teman terbaik saya… yang mungkin cerita hidupnya paling berliku. Saya bangga punya teman setangguh dia. Ada masa-masa labil-nya, masa-masa dia tampak sangat menuruti hatinya dan kurang berpikir rasional, tapi at all dia tetaplah wanita yang tangguh di mata saya. Senang akhirnya dia menemukan pelabuhan terakhirnya… semoga…
Btw,... mereka bertemu di sini. Saya ingat waktu itu libur. Libur semester atau libur apa yah? Tak ingat dengan pasti. Dia bercerita akan pergi ke Koeln untuk menghabiskan liburannya. Saat itu saya menggodanya, “Ada siapa di Koeln?”. Ternyata memang dia ke Koeln untuk kopi darat dengan orang yang menyapa lewat pesan di sini yang berlanjut ke telpon2 panjang penuh cerita, tawa dan curhat tentu. Syukurlah sekembalinya dari Koeln, kabar gembira terus berlanjut.
Ini pasangan kedua yang saya kenal yang bertemu lewat situs ini. Seorang Magdeburger malah lebih hebat lagi ceritanya. Setelah saling sapa lewat pesan singkat di Friendster, berlanjut ke YM! yang dalam 4 hari ditindak-lanjuti dengan mengubah status di Friendster dari single menjadi in relationship. Kemudian dalam sebulan sudah menentukan tanggal pernikahan. Padahal calon istri saat itu ada di Indonesia dan belum pernah ketemu langsung. Toh akhirnya tanggal pernikahan itu terwujud dan sekarang mereka sudah dikaruniai seorang putra yang sehat dan tampan seusia Raisha.
Hari gini masih ngomongin Friendster ya… Ketinggalan amat perasaan. Yah, sampai saat ini saya belum berhenti buka situs yang satu ini. Buat saya, Friendster salah satu benda menakjubkan yang membuat saya selalu terhubung dengan teman2 saya. Rasanya senang bertemu di dunia maya dengan teman2 yang bahkan sampai sepuluh tahun tidak bertatap muka. Sebagai orang yang menganggap teman adalah harta yang sangat berharga dan investasi yang tak pernah merugi, Friendster juga membantu saya untuk keep updated regarding my friend’s news. Jadi kalo menurut orang mungkin Friendster sudah basi, buat saya Friendster tidak pernah basi….
Showing the Love You Feel at Heart February 15, 2006
Posted by Vidya in : Thought and Imagination , 2commentsKemarin Mas ngajuin surat resign ke kantornya. Sebenarnya dia udah siap klo big boss bakal ga suka secara dia pindah ke company yang sekufu sejenis getoo. Sebenarnya juga dia berat bangetttt ninggalin company-nya yang skarang mengingat kondisi kerjanya enak dia beruntung dapet lead engineer yang baik dan pengertian, yang bahkan di saat dia bilang mo resign aja sibuk nyariin salary berapa sebenernya yang pantas Mas dapatkan di tempat baru dan dia bisa banyak belajar. Ini company pertamanya sejak lulus kuliah.
Hanya karena pertimbangan yang kuat aja; diantaranya kreditan rumah yang selalu terasa menghimpit setiap kali billing statement datang, the fact bahwa dia belom pernah kerja di tempat lain dan belom tau bagaimana sistem di company lain, ditambah kekhawatiran terjebak dalam lingkaran kenyamanan, akhirnya dengan berat hati dia mengajukan resign.
Selama ini sang big boss bisa dibilang tidak pernah berkomunikasi dengannya. Menyapa saat acara informal pun tak pernah. Mungkin karena Mas orang yang tak banyak bicara dan cenderung pendiam. Ini berbeda dengan behaviour-nya terhadap temen2 seangkatan Mas yang lain, terutama terhadap teman2 yang aktif dan komunikatif. Akibatnya, meski udah ngerasa big boss bakal ga suka, tetep aja ga nyangka kalo reaksi big boss bener2 tajam. Big boss bahkan sampe kirim e-mail ke Frieza menanyakan apakah dia yang ngasih info lowongan di KL.
Tapi kalo dipikir2, reaksi yang menurut saya agak berlebihan dan cukup menyinggung perasaan tersebut justru cenderung dikarenakan beliau merasa kehilangan.
It is something unexpected. Selama ini Mas merasa ga disayang, pekerja biasa yang kayanya ga signifikan lah kalo dia meninggalkan kantor. Ternyata anggapan tersebut tampaknya salah… Kayanya si boss cukup perhatian sama Mas tapi tidak dia tunjukkan.
So from now on… show the love you feel before you regret for not doing so….
bukan dalam rangka valentine day
Untuk Sebuah Pasta Gigi February 6, 2006
Posted by Vidya in : Thought and Imagination , add a comment“Mba d***,
Kalo boleh tau beli orajel dimana yah tepatnya…?, soalnya selama ini anakku (nanda, 2thn) juga pake orajel…kebetulan belinya di amrik nitip sama temen Saya udah cari2 dibeberapa apotik penjual obat import kok gak ada yah atau lagi kosong kali yah….”
Gedubrak… Petikan di atas saya ambil dari email di sebuah milis yang saya ikuti. Cukup mengagetkan saya. Raisha belum bergigi, jadi saya yang belakangan ini sibuk luar biasa belum sempat lihat-lihat pasar tentang pasta gigi yang baik dan aman untuk bayi. Saya memang sempat paham kalau pasta gigi bayi seharusnya tidak mengandung fluoride karena tidak baik jika tertelan, tapi saya pikir produsen pasta gigi sudah paham betul apa yang boleh dan yang tidak untuk dijadikan ingredients produknya.
Teringat saya pada essay statement of motivation yang saya buat 3, eh salah, 4 tahun yang lalu saat saya mengajukan beasiswa DAAD. Ada paragraf yang menyebutkan, salah satu motivasi saya untuk belajar lebih banyak dari negara maju adalah karena saya sedih. Sedih saat kuliah saya pernah harus menunda penelitian karena bahan kimia yang saya butuhkan masih import dan sulit didapat sehingga harus menunggu.
Hmmm, kalo untuk bahan kimia yang memang jarang orang pake masih harus diimpor, saya sudah cukup sedih… apatah lagi kalo hanya sekedar pasta gigi untuk bayi – yang seharusnya mudah tersedia – yang masih harus dibeli di Amrik.
Sampai saat saya menulis ini, saya memang belum mencari tahu apakah ada pasta gigi bayi yang aman (salah satu syaratnya tidak mengandung fluoride) dan diproduksi di dalam negeri. Tapi kalo sampai saya harus beli pasta gigi dari Amrik buat Raisha nanti… hmmm, anakku sayang,... sikat gigi-nya ga usah pake pasta dulu yaaa. Nanti kalo kamu sudah agak besar dan mengerti kalo pasta gigi itu ga boleh ditelan, baru pake pasta gigi yaaa….
Hmmm, tolong doong produsen pasta gigi bayi di Indonesia, diperiksa lagi ingredients-nya. Masa sih ga ada koordinasi ama dokter anak, ato masa sih ga update informasi tentang pasta gigi yang baik dan aman untuk bayi… Ayo dong, sebelum Raisha bergigi niiiih….
Ato justru ini jalan buat saya mulai usaha kali ya… produksi pasta gigi yang safe buat bayi
Dasar Orang Indonesia!! January 19, 2006
Posted by Vidya in : Thought and Imagination , 1 comment so farLangkah saya terhenti sesaat hendak menuruni metromini. Seorang ibu dengan belanjaan seukuran dua karung beras 20 kg tampak kepayahan hendak turun. Saya bermaksud mendahulukan beliau, rasanya tidak tega melewatinya, kuatir membuatnya terguling dan jatuh. Saya benar-benar takjub saat mbak di belakang saya membentak saya, “Mbak, ya ampun, cepet dong.”
Belum saya menyahut hendak mengatakan menunggu ibu tersebut mantap dengan posisinya, dia sudah mendorong saya dan melewati ibu yang sedang kepayahan tersebut. Si Ibu hampir terjungkal, untuk Pak Kenek sigap menyangga.
Saya hanya menggeleng-gelengkan kepala. Seterburu-buru itu kah? Sepenggal kejadian tersebut membuat saya jadi mengingat banyak hal yang belakangan kerap saya rasakan setelah mulai sering kembali naik metromini atau bis di Jakarta. Ibu hamil yang tetap berdiri tanpa ada seorang pun gentleman yang bersedia memberi tempat (saat itu saya juga berdiri jadi tak bisa memberi tempat), metromini yang penuh dan melaju kencang meski terseok-seok, kenek kopaja yang marah saat kopaja-nya menyerempet mobil pribadi (bang, bang, yang nyerempet itu sampeyan loh), atau seorang peminta-minta yang melemparkan kembali uang logam 500 rupiah yang diberikan penumpang di sebelahku hanya karena logam tersebut lah satu-satunya yang diberikan penumpang2 di metromini kami. Sudah hilangkah sisi manusiawi manusia-manusia Jakarta?
Dulu teman saya (hi there… how are you?) pernah cerita, dia kadang pengen jitak pacarnya yang anak diplomat dan terbiasa hidup di luar negeri. Kalau ada apa-apa yang tidak menyenangkan, seperti; ngurusin urusan orang, atau ada orang yang nyerobot antriannya, atau hal-hal tidak tertib lainnya, si pacar pasti ngomong, “Dasar orang Indonesia!!” dengan penuh emosi. Saya waktu itu tertawa-tawa, lucu membayangkan orang Indonesia berserapah seperti itu. Belakangan ini koq rasanya sering melintas di pikiran saya termasuk ketika si Mbak yang terburu-buru itu mempercepat langkah saat turun dari metromini tanpa merasa bersalah, “Dasar orang Indonesia!!”